Tribun Medan

Tribun Medan

Tribun Medan – Indonesia yang pertama kali diterbitkan tahun 2009 dan termasuk dalam grup kompas gramedia, tribun medan adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di sumatera utara.

Kompas Gramedia mengambil alih kepemilikan harian Sriwijaya Post di Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 1987, Menteri Penerangan RI agar koran-koran besar membantu koran-koran daerah yang terhambat permasalahan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers).

Setelah itu, pada tahun 1971 muncul Percetakan Gramedia, 1972 Radio Sonora, yang berarti suara merdu. Pada 1974 lahir Gramedia Pustaka Utama. Pada tahun 1978 Kompas sempat dibredel oleh pemerintah Orde Baru. Dengan idealisme PK Ojong, ia dengan tegas menyatakan tidak mau diatur oleh pemerintah.

Baca Juga:

Pada tahun 1980, Kompas kembali berdiri dan ditangani oleh Jakob Oetama. Pada tahun 1981, Kompas Gramedia kembali melahirkan hal yang baru, yakni Grahawita Santika.

Pada 1987 muncul Sriwijaya Pos, yang merupakan cikal bakal koran daerah. Di tahun 1988, lahir Graha Kerindo Utama, Kontan di tahun 1996 , Kompas.com di tahun 1998, Warta Kota tahun 1999, lalu pada tahun 2005 Kompas Gramedia melahirkan Universitas Multimedia Nusantara dan pada tahun 2009 lahir pula Kompas TV.

Pada perkembangan selanjutnya, Persda memperkuat bisnisnya dengan mendirikan sendiri koran daerah di hampir seluruh provinsi dengan merek Tribun. Diawali dengan Tribun Kaltim pada tahun 2003, lalu diikuti dengan Tribun Timur, Tribun Jabar, dan surat kabar bermerek Tribun lainnya.

Sinar Indonesia Baru

Sinar Indonesia Baru

Sinar Indonesia Baru – Setelah pembredelan, surat kabar ini terbit dengan nama Suara Pembaruan.Surat kabar Indonesia telah terbit kembali pada tahun 2001 setelah dibredel pada tahun 1986.

Seiring dengan perkembangan waktu, Sinar Harapan terus berkembang menjadi koran nasional terkemuka serta dikenal sebagai “raja koran sore”. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1985 Sinar Harapan telah terbit dengan oplah sekitar 250.000 eksemplar. Jumlah karyawan yang semula (tahun 1961) sekitar 28 orang telah membengkak menjadi sekitar 451 orang (tahun 1986).

Pendiri dan Pemimpin Umum Harian Sinar Indonesia Baru Gerard Mulia Panggabean meninggal dunia di RS Elizabeth Singapura, Kamis (20/1) malam sekitar pukul 21.30 WIB.

Baca Juga:

Penanggung jawab Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) Victor Siahaan yang dihubungi ANTARA di Medan, Jumat, mengatakan, tokoh pers Sumut itu meninggal dunia setelah menjalani dua kali operasi jantung.

Awalnya, pendiri dan Pemimpin Umum Harian SIB yang sering dipanggil GM Panggabean itu menjalani operasi jantung sekitar pukul 02.30 WIB.

Namun setelah operasi itu berakhir, kondisi GM Panggabean masih belum membaik sehingga operasi jantungnya dilanjutkan.

Setelah operasi kedua tersebut, tim medis RS Elisabeth Singapura membawa GM Panggabean ke ruang ICU untuk diistirahatkan guna pemulihan.

Namun dalam proses pemulihan tersebut, GM Panggabean menghembuskan napas terakhirnya, kata Victor.

Saat ini, kata dia, jenazah GM Panggabean masih disemayamkan di RS Elizabeth Singapura didampingi isterinya R Boru Hutagalung beserta anak dan menantu.

Jenazah GM Panggabean yang juga Penasehat Panitia Pembentukan Provinsi Tapanuli itu akan dibawa ke Medan pada Sabtu (22/1).

Setelah upacara penghormatan terakhir, jenazah GM Panggabean akan dimakamkan pada Selasa (25/1).

Victor Siahaan belum mengetahui tempat pemakaman jenazah GM Panggabean apakah di kampung halamannya di Sibolga atau di Kota Medan.

Harian Matahari

Harian Matahari

Harian Matahari – Pertama kali di Semarang yang dirintis oleh Kwee Hing Tjiat dibantu oleh koleganya yang bernama Oei Tiong Ham pada tanggal 1 Agustus 1934 sebuah surat kabar berbahasa Melayu dan Cina.

Awalnya, Kwee Hing Tjiat ingin memberi nama surat kabar ini Merdika dan mengecat merah kantornya. Sayangnya, niatan tersebut urung diwujudkan karena dilarang oleh Pemerintah Belanda kala itu. Nama surat kabar ini pun diganti menjadi Matahari.

Pada zaman kolonial Belanda, sekitar tahun 1930-an satu-satunya koran yang terbit di Yogyakarta berhuruf latin berbahasa Jawa adalah Sedya Tama. Direksi penerbitan koran tersebut adalah R. Roedjito dan dicetak oleh penerbit Mardi Moelja. Pimpinan redaksi dipercayakan pada Bramono (Alfonsius Soetarno Dwijosarojo). Ketika Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang segalanya kemudian dikuasainya, termasuk media komunikasi massa seperti surat kabar, majalah, kantor berita, radio, film, sandiwara dan sebagainya.

Pada tahun 1942 masa pendudukan Jepang, Sendenbu (barisan propaganda Jepang) masih membiarkan Sedya Tama terbit tetapi dengan syarat harus menggunakan bahasa Indonesia. Namun karena adanya banyak tekanan dari pemerintah Jepang akhirnya R. Roedjito segera menutupnya.

Baca Juga:

Selanjutnya kantor yang terletak di Jl. Malioboro itu (sekarang sebelah selatan Hotel Garuda) dirampok oleh Jepang. Kemudian dijadikan sebagai kantor penerbitan koran Jepang dengan nama Sinar Matahari. Para pemuda Yogyakarta yang dimusuhi Belanda waktu itu bekerja di harian Sinar Matahari. Waktu itu dipimpin oleh Raden Mas Gondhojuwono (ex interneer Digul). Juga para pemuda lain seperti Bramono, Soemantoro dan Samawi.

Karena kebutuhan rakyat akan informasi tentang perkembangan yang terjadi di Indonesia dan dunia pada umumnya, maka muncul tekad Samawi dan teman-teman untuk menerbitkan koran baru. Tanggal 26 September 1945, segel Harian Sinar Matahari dibuka. Nama baru akhirnya diperoleh dari Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo (ketua KNID Yogyakarta), yaitu Kedaulatan Rakyat.

Harian Analisa

Analisa

Analisa – Saat pertama kali terbit, harian Analisa berbentuk tabloid. Meskipun Surat Izin Terbit (SIT) berlaku untuk harian, tetapi sekitar setahun Analisa terbit sebagai mingguan pada setiap hari Sabtu. Ketika itu surat kabar tersebut masih dicetak secara hand-set. Sejak tanggal 21 Maret 1973, Analisa sepenuhnya sebagai harian yang terbit tujuh kali seminggu dan bentuknya bukan lagi tabloid, melainkan broadsheet.

Pemilihan nama bukanlah hal yang mudah. Menjelang kelahirannya, pemilihan nama dirembugkan. Soffyan mengusulkan nama Analisa, Narmin Suti mengajukan nama Tinjauan, dan A. Manan Karim menyarankan nama Sikap. Akhirnya, dengan kesepakatan bersama, dipilihlah nama Analisa, sedangkan jenis huruf dipilih oleh F.N. Zainoeddin.

Harian Analisa terbit dengan moto: Membangkitkan Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan. Pemimpin redaksi yang pertama adalah F.N. Zainoeddin. Beliau meninggal dunia pada 18 April 1972. Penggantinya, sebagai pemimpin redaksi hingga sekarang adalah Soffyan. Wakil pemimpin redaksi adalah Narmin Suti dan A. Manan Karim. Namun, A. Manan Karim juga telah tiada sejak tahun 1983 sehingga digantikan oleh Ali Soekardi. Narmin Suti juga telah meninggal dunia pada 8 Maret 1995. Patut dicatat bahwa pada saat menjadi harian penuh, Analisa merupakan harian pertama di daerah ini yang terbit dengan 8 halaman kemudian menjadi 12 halaman sejak September 1973, dan meningkat lagi menjadi 16 halaman sejak Oktober 1991.

Jurnalis memiliki peran penting dalam penyebaran informasi yang benar. Bahkan, jurnalisme kini harus ramah anak dan khalayak.
Tak hanya itu, jurnalistik pun kini merupakan kegiatan yang menyenangkan, karena bisa dilakukan siapa saja, termasuk para remaja. Apalagi, kegiatan jurnalistik sudah menjadi salah satu tren di kalangan siswa di sekolah.

Baca Juga:

Dalam rangka menambah pengetahuan dan pengalaman siswa/i SMP Global Prima School melakukan kunjungan ke Harian Analisa Medan yang bertujuan untuk mengetahui secara jelas mengenal dan mempelajari lebih dalam tentang jurnalistik dan sejarah Harian Analisa.

Sekitar 50 siswa turut berpartisipasi dalam kunjungan tersebut. Para siswa juga tampak begitu tertarik ketika Redaktur Minggu, M Arifin menjelaskan tentang sejarah singkat Harian Analisa.

Harian Analisa merupakan surat kabar termuda pada saat kelahirannya tanggal 23 Maret 1972 dibanding enam harian lainnya ketika itu, yakni Mimbar Umum, Waspada, Bukit Barisan, Sinar Indonesia Baru, Medan Pos dan Garuda. Akan tetapi, dalam usia yang relatif muda itu, Analisa berupaya mencapai beberapa kemajuan sehingga berada sejajar dengan berbagai surat kabar harian yang ada di Kota Medan.

“Saat pertama terbit, Harian Analisa masih berbentuk tabloid. Meski Surat Izin Terbit (SIT) berlaku untuk harian, namun untuk sementara Analisa terbit sebagai mingguan setiap hari Sabtu, selama satu tahun dan masih dicetak secara hand-set. Namun, pada 21 Maret 1973, Analisa sepenuhnya sebagai harian yang terbit tujuh kali seminggu dan bentuknya tak lagi tabloid, namun broadsheet,” kata Arifin di hadapan para siswa, staf administrasi, guru serta wakil kepala sekolah yang turut hadir, Rabu (23/1).

Arifin mengungkapkan, motivasi menerbitkan Harian Analisa ketika itu, ingin memajukan dunia pers khususnya surat kabar harian di Medan. Harian yang terbit dengan moto “Membangkitkan Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan” itu turut mendukung program pembangunan seraya menerapkan fungsi dan peranan pers.

“Dalam pemberitaannya, Harian Analisa menyajikan berbagai berita dari dalam dan luar negeri, di antaranya, berita Nasional, Kota Medan, Daerah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Mancanegara, Ekonomi, Olahraga dan Hiburan. Sedangkan dalam edisi Minggu, pembaca disajikan rubrik khusus seperti Pariwisata, Jentera, Musik, Budaya, Taman Riang, Komunitas dan lainnya,” ungkapnya.

Berbagai penjelasan tentang sejarah dan dunia jurnalistik yang disampaikan, para siswa begitu tertarik dan sekitar belasan siswa turut memberikan pertanyaan seputar keredaksian, surat kabar dan perkembangan koran di era digital saat ini.

Lebih lanjut, Wakil Kepala Sekolah 3 SMP Global Prima School, M Akhyar Maksum menambahkan, pihaknya sangat senang bisa melakukan kunjungan ke Harian Analisa. Apalagi, para siswa juga begitu aktif dalam berdialog dan memberikan berbagai pertanyaan seputar surat kabar.

“Kunjungan ini memberikan banyak manfaat dan juga motivasi kepada para siswa. Apalagi, jika siswa yang memiliki bakat menulis cerpen, membuat puisi, karikatur dan lainnya bisa mengasah keterampilannya,” ujarnya.

Harian Andalas

Harian Andalas

Harian Andalas – Diterbitkan 14 Juli 2005, sebuah surat kabar harian yang pertama kali di Medan, Sumatera Utara. Gaya pemberitaannya pun non-sekterian, tidak primordial, menjauhi prasangka atas asal usul keturunan, ras, suku ataupun agama.

surat kabar adalah suatu penerbitan yang ringan dan mudah dibuang, biasanya dicetak pada kertas berbiaya rendah yang disebut kertas koran, yang berisi berita-berita terkini dalam berbagai topik. Topiknya bisa berupa even politik, kriminalitas, olahraga, tajuk rencana, cuaca. Surat kabar juga biasa berisi karikatur yang biasanya dijadikan bahan sindiran lewat gambar berkenaan dengan masalah-masalah tertentu, komik, TTS dan hiburan lainnya.

Ada juga surat kabar yang dikembangkan untuk bidang-bidang tertentu, misalnya berita untuk politik, property, industri tertentu, penggemar olahraga tertentu, penggemar seni atau partisipan kegiatan tertentu.

Baca Juga:

Jenis surat kabar umum biasanya diterbitkan setiap hari, kecuali pada hari-hari libur. Surat kabar sore juga umum di beberapa negara. Selain itu, juga terdapat surat kabar mingguan yang biasanya lebih kecil dan kurang prestisius dibandingkan dengan surat kabar harian dan isinya biasanya lebih bersifat hiburan.

Kebanyakan negara mempunyai setidaknya satu surat kabar nasional yang terbit di seluruh bagian negara.

Pemilik surat kabar adalah pihak penanggung jawab dalam kaitannya dengan keberlangsungan medianya. Redaktur adalah beberapa jurnalis yang bertanggung jawab atas rubrik tertentu. Sedang yang bertanggung jawab terhadap isi surat kabar disebut editor. Di samping kemutlakan adanya peran wartawan, pewarta atau jurnalis yang memburu berita atas instruksi dari redaktur atau pemimpin redaksi.

Pengasuh harian Andalas sebagian merupakan pemilik modal harian Analisis. Harian in pun telah dibeli sahamnya oleh pengusaha iklan Star Indonesia dari harian Analisis. Sejumlah nama yang yang dulunya ada di harian Analisis bekerjasama dengan Dr Indra Wahidin dan pengusaha iklan Iskandar ST untuk menerbitkan harian Andalas.

Harian ini berkantor di Jalan Tengku Amir Hamzah No. 182, 184, 186, Medan.