pos metro

Pos Metro Medan

Mediaindonesia.web.id – Kembali lagi dengan media Indonesia kali ini kita akan membahas sejarah dari harian pos metro medan. Setiap orang pasti membutuhkan informasi yang terjadi sehari-hari yang di luar dari jangkauan kita Pos Metro sudah cukup lama membantu dan membagikan informasi yang banyak orang butuhkan.

Pos Metro Medan (sebelumnya bernama Radar Medan di antara pada tanggal 1 Januari 2000 sampai dengan 30 September 2001) adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Sumatra Utara dengan format hukum & kriminal. Surat kabar ini termasuk dalam grup Jawa Pos yang berantor pusat terletak di Gedung Graha Pena di Jalan Sisingamangaraja Nomor. 134 Kilometer 8,5 dari kelurahan Timbang Deli, kecamatan Medan Amplas, kota Medan (ibu kota Provinsi Sumatra Utara).

Sejarah

Radar Medan (1 Januari 2000-30 September 2001)
Pada tanggal hari Sabtu, 1 Januari 2000, Pos Metro Medan yang sebelumnya dikenal sebagai Radar Medan sebuah surat kabar harian pertama kali yang terbit di Sumatra Utara.

Sumut Pos & Pos Metro Medan (1 Oktober 2001-sekarang)
Pada tanggal hari Senin, 1 Oktober 2001, Radar Medan sekarang berganti nama menjadi ada 2-surat kabar harian pertama kali terbit di Sumatra Utara seperti:

  • Sumut Pos – sebuah surat kabar harian yang terbit di Sumatra Utara dengan format berita & informasi.
  • Pos Metro Medan – sebuah surat kabar harian yang terbit di Sumatra Utara dengan format hukum & kriminal.

Baca juga : Jejak Petualang

Slogan dan Motto

  • Radar Medan (1 Januari 2000-30 September 2001)
  • Koran Nasional Medan 1 Januari 2000 30 September 2001
  • Pos Metro Medan (1 Oktober 2001-sekarang)
  • Koran Nonstop 1 Oktober 2001 31 Januari 2003
  • Criminal News Leader 1 Februari 2003 31 Agustus 2004
  • Menyajikan Fakta Peristiwa Dan Fenomena 1 September 2004 31 Desember 2011
  • Menyajikan Berita Fakta Dan Peristiwa 1 Januari 2012 sekarang

 

Kantor Pusat

  • Gedung Graha Pena
  • Jalan Sisingamangaraja Nomor. 134 Kilometer 8,5
  • Kelurahan Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas
  • Kota Medan 20148
  • Provinsi Sumatra Utara, Indonesia
  • Telepon: (62-61) 788 1661
  • Faksmili: (62-61) 788 1733

Pranala luar
Artikel bertopik berita, surat kabar, atau jurnalisme ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu media Indonesia dengan mengembangkannya.

Terima kasi telah membaca artikel ini semoga ini dapat membantu anda dalam mencari informasi yang anda butuhkan. semoga yang anda cari bisa di dapat dalam atrikel ini dan memberi wawasan yang lebih luas lagi.

Harian Waspada

Harian Waspada

Harian Waspada – Waspada adalah sebuah harian yang terbit di Medan sejak 11 Januari 1947. Harian ini didirikan Mohammad Said dan Ani Idrus. Pemimpin Redaksi saat ini Prabudi Said. Waspada terletak di Jalan Letjen Suprapto/Brigjen Katamso No 1, Medan. Waspada juga hadir dalam bentuk daring Waspadamedan.com dengan berita yang lebih terkini serta bentuk ePaper.

Sejarah

Mohammad Said dan Ani Idrus mendirikan Surat Kabar Harian WASPADA dengan motto ‘’Demi Kebenaran dan Keadilan’’ bertekad bulat mengangkat bendera Republiken. Koran daerah ini dengan sikap tegas menyatakan diri sebagai bagian dari pendukung Kemerdekaan RI. Slogan pro pejuang itu bukan basa-basi, tapi ditunjukkan lewat artikel dan pemberitaan yang tegas dan tajam menghantam Belanda yang terus berupaya menancapkan pengaruh dan cengkeramannya menduduki Medan dan sekitarnya demi menguasai lahan-lahan perkebunan, seperti areal tembakau Deli dan komoditas pangan maupun rempah-rempah.

Asal kata “Waspada”

Nama WASPADA memiliki kisah sejarah tersendiri. Masa itu, kondisi masyarakat diliputi ketakutan dan kegelisahan, panik luar biasa, sehingga sebagian besar warga Kota Medan bersikap waspada serta mengungsi ke luar kota, sejalan sengitnya peperangan dan berpindahnya kantor-kantor Pemerintahan Republik di bawah pimpinan Gubernur Tengku M.

Hassan ke Pematang Siantar, lebih kurang 120 km dari Medan. Satu poin lagi yang memantapkan hati Mohammad Said memberi nama korannya WASPADA adalah terkait lemahnya delegasi pemerintahan Indonesia masa itu dalam perundingan dengan petinggi Belanda.

Setiap hari para pejuang bersama rakyat menghadang pasukan Belanda, khususnya konvoi menuju Pelabuhan Belawan. Belanda dibuat kelabakan akibat tersendatnya pasokan logistik dan akhirnya mendesak dilakukan perjanjian dengan pemerintahan Republik Indonesia di Jakarta, dipimpin Menteri Pertahanan RI Amir Syarifuddin. Sayangnya, tim delegasi Republik Indonesia cenderung mengalah yang akhirnya sepakat untuk menyetujui perluasan wilayah kekuasaan Belanda dari gangguan pejuang tentara rakyat di Medan. Pemimpin kita kecolongan alias tidak ‘’WASPADA’’ terhadap strategi busuk Belanda yang mengakibatkan kerugian besar bagi para pejuang dan kedaulatan Republik Indonesia.

Waspada dari masa ke masa

Pertama kali terbit, Surat Kabar WASPADA dicetak 1000 eksemplar dan terjual habis walapun dengan format penerbitan yang hanya setengah halaman. Dalam perjalanannya, surat kabar WASPADA dibreidel berkali-kali karena melawan Belanda, pernah dilarang terbit sampai lima kali, bahkan sampai adanya buka paksa kantor dan percetakan WASPADA oleh militer Belanda.

Pada masa Orde Lama kehidupan surat kabar di Indonesia, termasuk WASPADA penuh dengan perjuangan, mengalami beberapa kali masa sulit, sehingga harus bekerja keras untuk bisa mandiri (terbit), termasuk sulitnya mendapatkan bahan baku kertas sehingga harus didatangkan dari luar negeri (Pulau Penang) dengan boat dengan cara menerobos blokade Belanda ke Pelabuhan Tanjung Balai.

Pada masa Orde Baru hampir semua surat kabar dan majalah (penerbitan) mengalami ancaman breidel lewat pencabutan SUIPP, tiba-tiba ditelepon pejabat militer (ABRI). Tidak ada kebebasan pers sehingga fungsi kontrol media tidak bisa dijalankan dengan efektif. Namun WASPADA tetap berupaya menjalankan kontrol sosial dengan penuh hati-hati.

Kini, WASPADA tercatat sebagai surat kabar tertua No 2 dalam sejarah pers Indonesia yang kontinu terbitnya (tanpa jeda), menembus usia 70 tahun – pada 11 Januari 2017.

Penghargaan

Atas dedikasinya, kedua pendiri WASPADA memperjuangkan Kemerdekaan RI, membangun negeri tercinta tanpa pamrih di daerah maupun nasional, pemerintah Indonesia menganugerahi penghargaan kepada Mohammad Said berupa: Penghargaan Satya Penegak Pers Pancasila dari PWI (1985), Peniti Emas dari Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat atas jasanya ikut mendirikan SPS di Solo pada tahun 1946 dan membantu pembentukan SPS Cabang Sumut, Sedangkan Hj. Ani Idrus – tokoh pers empat zaman sejak zaman kemerdekaan, orde lama, orde baru, dan reformasi– dianugerahi Satya Lencana Penegak Pers Pancasila,

Tipe : Surat Kabar Harian
Pendiri : Mohammad Said dan Ani Idrus
Penerbit : PT.Penerbitan Harian Waspada
Bahasa : Indonesia
Pusat : Medan
Situs : www.waspadamedan.com