Review Optimis Pesimus Film Gundala

Review Optimis Pesimus Film Gundala

mediaindonesia.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai Review Optimis Pesimus Film Gundala.Berikut ini kami akan memberikan pembahasan yang berkaitan dengan artikel yang membahas mengenai Review Optimis Pesimus Film Gundala

Untuk pertama kalinya, perfilman Indonesia dirasa siap melanjutkan jagat sinema superhero layaknya format MCU dan DC. Awalnya, penonton skeptis dengan bagaimana caranya film pahlawan super dikawinkan dengan sentuhan lokal. Eksekusinya, Joko Anwar bisa dibilang berhasil mengawali debut jagat Bumilangit dengan film origin Gundala yang patut diapresiasi. Sayangnya, belum semua penonton bisa menerima sajian film berlatar kondisi masyarakat yang kaos ini. Sebagian, justru sangat kecewa.

Setelah dipromosikan di berbagai stasiun televisi dan media sosial, film Gundala arahan sutradara Joko Anwar akhirnya tayang pada akhir Agustus 2019. Film ini digadang-gadang bakal jadi awal dari Bumilangit Cinematic Universe yang merupakan jagat terbesar perfilman superhero di Indonesia.Tinggalkan sejenak gegap gempita BCU yang kelihatannya bakal super serius dengan budgeting yang nggak minimalis ini. Lalu fokus pada Gundala dan kenapa penonton di Indonesia terbagi dua: antara yang skeptis dan optimis, antara mereka yang sebelum pulang tepuk tangan dan mereka yang sebelum pulang nggak paham. Selengkapnya di Hipwee Hiburan.

Respons reviewer film lokal memang beragam, pujian film ini rata-rata mengarah pada bangunan cerita yang kokoh dan sentuhan lokal yang bisa menyatu dengan plot
Sebagai film superhero, film Gundala terbilang paling niat karena menyuguhkan segi cerita yang cukup rapat dan mudah diterima semua kalangan. Karena tergolong film origin yang menceritakan asal muasal Sancaka (Abimana Aryasatya) menemukan jati diri petir dalam dirinya, penyajian plot sudah cukup menjelaskan bagaimana kegalauan batin Sancaka sampai pada akhirnya dia mau menolong sesama. Kehadiran tokoh seperti Pak Agung dan Wulan mampu menyokong perkembangan karakter Sancaka menuju Gundala.

Karakterisasi pemeran antagonis cukup apik, sayangnya penyelesaian masalah yang cenderung terlalu cepat bikin kegeraman penonton belum terpuaskan
Pengkor (Bront Palarae) memainkan peran yang cukup krusial. Sebagai penjahat, Pengkor nggak main-main dan dibangun sebagai sosok yang bengis dengan kekuatan nyaris nggak terkalahkan. Namun bagian akhir film ini gagal menempatkan Pengkor sebagai musuh yang layak berhadapan langsung dengan Gundala. Rasanya, belum ada sebuah benang merah yang benar-benar menyebabkan Pengkor terusik akan kehadiran Gundala.

Bukan dengan warna yang cerah dan musik patriotik, pahlawan ala Joko Anwar adalah mereka yang bersinggungan dengan kekacauan yang terjadi di negeri ini. Sentuhan lokal yang porsinya pas
Secara visual, grading film Gundala mengingatkan kita pada kekacauan 1998, hal ini senada dengan beberapa kekhasan dalam film karya Joko Anwar. Dia ingin menempatkan superhero pada permasalahan yang dekat dengan masyarakat, bukan yang terlalu jauh layaknya konflik dalam film besutan Marvel dan DC. Garapan dialog yang rapat dan Indonesia banget juga nggak mengurangi nilai dramatisnya. Meskipun memang, latar belakang waktu dalam film ini tergolong sureal dan nggak berdasarkan kejadian nyata. Setidaknya Gundala bisa menjadi sebuah parameter bagaimana film superhero BCU bakal ditampilkan.

Baca Juga : Rekomendasi Film Lokal Di Akhir Tahun

Penonton banyak kecewa dengan garapan keseluruhan film ini yang dinilai bisa lebih bagus. Ataukah mungkin kita terlalu berekspektasi dan terlanjut menghadap kiblat Marvel?
Respons penonton terhadap film Gundala sedikit mengingatkan kita pada bagiamana Wiro Sableng (2017) ditayangkan. Sebagian penonton menganggap film ini begitu baik dengan komedi yang pas hingga aksi silat yang memukau. Tapi sebagian lain justru merasa film ini begitu mengecewakan dengan guyonan yang dipaksa masuk dalam dialog dan editing yang kurang matang.

Begitu juga dengan Gundala, sebagai film yang tergolong punya nafas baru, skeptisme dan pesimisme penonton jelas bakal ada. Tapi hal ini nggak seketika mengurangi jumlah fans yang justru optimis dan menganggap Gundala layak jadi parameter film BCU selanjutnya. Semua tentu tergantung pada persepi kita secara keseluruhan, apakah kita siap untuk memberikan apresiasi pada film dengan garapan super serius dan ‘nggak murah’ ini? Atau justru kita nggak bisa menanggalkan kiblat kita akan superhero Hollywood berkostum memukau dan kekuatan super keren? *Lalu seketika terbayang Thor dengan geledek dan storm breaker.*

Baik atau buruk penilaian kita terhadap film Gundala, apresiasi terhadap kerja sineas tetap dibutuhkan. Setidaknya kita siap untuk menyaksikan sedikit demi sedikit kualitas film lokal diperbaiki
Tim Hipwee Hiburan menilai film Gundala tetap perlu ditonton agar kita jadi saksi bagaimana film superhero lokal tumbuh. Film ini lebih dari sekadar layak untuk ditonton kok! Belum lagi, komik dan deretan karakter yang sudah disusun sejak lama ini menandakan bahwa sosok pahlawan legendaris dari Indonesia memang ada. Mau menilai baik atau buruk tentu bebas dong. Setidaknya tindakan kita menilai secara objektif adalah bentuk apresiasi. Tapi kalau belum menonton udah pada ngalor ngidul pembahasannya, ya, mohon maaf nih, mending piknik ke pantai deh biar hidupmu menyenangkan.

Berikut Fakta Menarik Film Gundala

Berikut Fakta Menarik Film Gundala

Mediaindonesia.web.id – Setelah menonton Trailer film Gundala, banyak masyarakat mengaku tak sabar menunggu film tersebut tayang di layar lebar. Namun sayangnya film jagoan versi Indonesia ini baru akan tayang pada 29 Agustus 2019 mendatang.

Trailer film Gundala rupanya juga turut ditayangkan dalam acara We The Fest 2019. Trailer berdurasi dua menit itu ditampilkan dari panggung utama pada hari kedua We The Fest, di JIExpo Kemayoran Jakarta Pusat.

Dalam trailer tersebut, terlihat karakter Sancaka kecil dengan ekspresi marah dan kesal. Tak hanya itu ia juga basah kuyup. Tak hanya itu, film ini memperlihatkan kondisi Jakarta yang kacau, kerusuhan di mana-mana.

Film Gundala Putra Petir ini dikerjakan oleh Bumi Langit Studios bersama Screenplay Films dan Legacy Pictures, Berikut telah kami rangkum fakta fakta mengenai film Gundala.

1. Diambil dari Serial Komik Indonesia

Gundala merupakan karakter jagoan dalam komik legendaris Indonesia. Karakter Gundala lahir dari karya komikus Harya Suraminata atau yang akrab dengan sebutan Hasmi. Hasmi menciptakan tokoh ini di komiknya lantaran dirinya terinspirasi oleh seorang tokoh Jjawa yang bernama Ki Ageng Selo yang diyakini memiliki kekuatan bisa menangkap petir.

Karakter Gundala dibuat mirip dengan Ki Ageng Selo. Jagoan yang satu ini dapat mengalahkan musuh-musuhnya dengan sejumlah kekuatan istimewa yang bersumber dari petir. Komik Gundala telah rilis 23 judul hingga 1982. Karakternya yang “merakyat”, memberikan kedekatan dan kebanggaan tersendiri bagi para penggemarnya di Indonesia.

2. Melibatkan Aktor Ternama

Selain Abimana Aryasatya, ada beberapa aktor dan aktris ternama lainnya yang ikut serta dalam penggarapan film ini salah satunya ialah Tara Basro. Dalam film Gundala, Tara Basro berperan sebagai seorang wanita yang bernama Wulan.

Tak hanya itu, film Gundala juga melibatkan aktor Indonesia yang kerap terlibat dalam film Hollywood, yaitu Cecep Arif Rahman. Di film ini Cecep berperan sebagai penari, tetapi tak hanya itu saja, Cecep rupanya juga menjadi penanggung jawab koreografi dalam film Gundala.

3. Syuting di 70 Tempat

Film jagoan Indonesia ini ternyata menjalani syuting di berbagai tempat. Tak tanggung-tanggung dalam proses pengambilan gambar, Gundala menggunakan 70 lokasi yang terbilang sebentar yakni kurang dari dua bulan.

Maka dari itu, para pemain bisa berpindah hingga dua tempat berbeda dalam satu hari. Film ini juga melibatkan banyak pemain. Total ada 1.800 pemain yang terlibat film garapan Joko Anwar ini.

Baca Juga : Fakta Dave Bautista Lawan Main Iko Uwais di Film Stuber

4. Naskah Dibuat di Tempat yang tak Biasa

Dalam proses pembuatan naskah film Gundala, Joko Anwar selaku sutradara sekaligus penulis naskah mengaku membuat adegan demi adegan di tempat yang tak diduga. Joko mengaku menulis naskah film Gundala ini di beberapa tempat tak terkecuali, kuburan dan museum.

Joko menghabiskan waktu empat bulan untuk menyelesaikan skenario Gundala. Hal ini lantaran Joko Anwar menginginkan jalan cerita Gundala cocok dengan zaman sekarang.

5. Kostum Dibuat di Los Angeles

Tidak hanya tentang naskah dan skenario, Joko Anwar selaku sutradara yang menggarap film ini tentunya juga memperhatikan perihal kostum yang akan di pakai Gundala. Tak tanggung-tanggung, Joko bahkan memproduksi kostum tersebut sampai ke Los Angeles, Amerika Serikat. Yang lebih membuat orang tercengang ialah tempat pembuatan kostum Gundala ternyata adalah tempat yang sama dengan produksi kostum superhero Marvel, Daredevil. Benar-benar keren!

Dan yang lebih membuat menarik ialah proses pembuatan kostum Gundala ini. Kostum dibuat dengan proses yang tidak biasa melainkan dengan menggunakan sistem 3D scan full.

6. Biaya Tak Sentuh Rp 5 Triliun

Walaupun disebut sebagai film superhero pertama keluaran Indonesia dan melibatkan 1.800 pemain, ternyata biaya produksi film Gundala tidak menyentuh angka 5 Triliun. Hal ini di ungkapkan Joko Anwar langsung.

Namun sayangnya Joko tidak menyebutkan nominal pasti berapa anggaran yang harus dikeluarkan dalam proses pembuatan film ini.

“Yang jelas biayanya tak sampai Rp 5 triliun. Industri film Indonesia, kan belum sebesar Hollywood. Namun saya menjanjikan cerita yang relevan, memotret persoalan masyarakat Indonesia saat ini sehingga usai menonton, penonton bisa mendiskusikannya dengan orang lain. Jangan sampai keluar bioskop, penonton mudah melupakan film ini,” tutur Joko Anwar.