Remake Film Indonesia Jadi Asik

Remake Film Indonesia Jadi Asik

mediaindonesia.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  film-film indo yang diremake. Seberapa seru rasanya menikmati film-film jadul ini dalam dolby layar kaca yang lebih jernih dan resolusi tinggi?

Hantu Jeruk Purut Reborn
Film Hantu Jeruk Purut pertama kali tayang pada tahun 2006 silam, film ini menjadi salah satu film horor yang laris di pasaran. Dibintangi oleh Angie The Virgin dan Sheila Marcia film ini kembali dibuat versi anyar dengan judul Hantu Jeruk Purut Reborn yang tayang September 2017 silam. Angie dan Sheila kembali dilibatkan dalam film ini sehingga esensi film reborn dalam film ini cukup berasa. Namun sepertinya film versi reborn yang dibuat oleh sutradara yang sama ini kurang mendapatkan perhatian oleh para penggemar film horor Indonesia. Apakah kamu ada yang menontonnya?

Catatan (Harian) Si Boy
Siapa sih yang tidak mengenal Mas Boy? Sudah ganteng, kaya dan taat agama itu? Yup, tokoh Boy yang sudah dua puluh tahun melekat pada sosok Onky Alexander itu kembali dihidupkan dalam film reborn Putratama Tuta pada 2011 silam. Film Catatan (Harian) Si Boy, bisa jadi adalah pembuka gerbang film reborn kekinian. Penonton pun dimanjakan dengan reunian para pemeran lama mereka, seperti Onky Alexander, Didi Petet, dan Btari Karlinda. Boy dalam film ini diperankan apik oleh Ario Bayu. Hayo, sudah nonton?

Pengabdi Setan
Kalau kamu sempat nonton film aslinya, film ini termasuk film paling seram di era 80an, Film ini sangat terkenal pada masanya bahkan sampai di dunia internasional, dirilis dalam berbagai format seperti VHS dan kemudian DVD di berbagai negara seperti Amerika, Eropa dan Jepang. Setelah hampir empat puluh tahun berlalu, film ini kembali di-remake oleh sutradara kenamaan Joko Anwar. Hasilnya? Bisa dibilang film Pengabdi Setan versi baru cukup sukses mencuri perhatian penikmat film horor. Film ini juga turut diperankan Tara Basro, Dimas Aditya dan Ayu Laksmi sebagai pemeran utama.

Baca Juga : Film Indonesia Yang Lagunya Ikonik

Kabayan Jadi Milyuner
Buat kamu yang dari tanah Sunda pasti sudah tahu tokoh yang satu ini, tokoh Kabayan memang sudah cukup lama dibuat dalam berbagai cerita baik sandiwara radio, cerita bergambar bahkan film dan sinetron. Sosoknya yang lugu dan baik hati menjadi daya tarik tersendiri dalam setiap cerita yang ada.

Bangun Lagi Dong LUPUS
Kalian yang tumbuh di tahun 90an pasti kenal deh sama LUPUS, cowo SMA yang suka banget dengan permen karet itu. Tokoh Lupus bukan hanya diangkat dari novel guys, Lupus juga sempat dibuat dalam versi film layar lebar bahkan sinetron. Versi film sendiri, cerita Lupus bahkan sampai pada musim ke lima, mulai dari Lupus 1 sampai 5 yang berakhir pada tahun 1991. Sejak merosotnya dunia film Indonesia pada tahun 1992 maka praktis Lupus pun tidak pernah hadir dalam layar lebar, ia tetap menyapa penggemarnya melalui novel dan juga sinetron yang dirilis pada awal 2000an.

Nah, untuk mengobati kerinduan orang-orang akan sosok Lupus, maka pada tahun 2013 muncullah film Lupus paling baru dengan judul Bangun Lagi Dong Lupus. Diperankan oleh Miqdad Addausy sebagai Lupus dan Acha Septriasa film ini cukup mengobati kerinduan panutan tokoh remaja dimasanya. Hayo apakah kamu masih ingat siapa saja aktor yang pernah memerankan tokoh Lupus?

Film Indonesia Yang Lagunya Ikonik

Film Indonesia Yang Lagunya Ikonik

mediaindonesia.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  lagu-lagu Indonesia yang datang dari film-film ikonik yang ada di Indonesia .Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai lagu-lagu tersebut

1. Gita Cinta dari SMA – Chrisye (1979)
Chrisye menyanyikan lagu Gita Cinta dari SMA untuk film berjudul sama pada 1979. Irama lagunya klasik dan mampu menonjolkan vokal khas Chrisye.Gita Cinta dari SMA menjadi favorit generasi muda pada era 70-an hingga 80-an. Film ini bercerita tentang perasaan cinta yang menyelimuti Galih (Rano Karno) dan Ratna (Yessi Gusman). Sayang, hubungan mereka mengalami tantangan karena perbedaan suku keluarga.

2. Catatan Si Boy –
Nyaris 10 tahun berlalu, idola remaja berganti berkat film Catatan Si Boy. Publik menyukai sosok Boy (Onky Alexander) yang ganteng, alim, dan jago berantem ketika muncul pertama kali tahun 1987. Film ini terbilang sukses bahkan melahirkan empat buah sekuel.Gambaran sosok Boy dituangkan dalam soundtrack berjudul sama. Lagu ini dinyanyikan oleh Ikang Fawzi dengan gaya rocker serta irama menghentak.Membuat lagu ini menjadi ikonik dengan filmnya 

3. Ada Apa Dengan Cinta? –
Ada Apa Dengan Cinta? menggambarkan kisah yang berbeda dengan film generasi sebelumnya. Publik dibuat penasaran melihat perubahan rasa benci menjadi suka antara dua siswa SMA. Mereka adalah Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra).Kisah Ada Apa Dengan Cinta? semakin seru dengan kehadiran soundtrack berjudul sama. Lagu ini dinyanyikan secara duet oleh Melly Goeslaw dan Eric. Nuansanya emosional berkat dominasi dentingan piano.

Baca Juga : Film Jadul Indo Asoy Indehoy

4. Pujaanku –
Melly Goeslaw kembali menciptakan soundtrack hit setelah Ada Apa Dengan Cinta?. Setahun kemudian, Melly Goeslaw menggandeng Jimmo untuk film Eiffel I’m In Love. Mereka merilis lagu Pujaanku yang bergaya dramatis dengan sentuhan musik rock.
Eiffel I’m In Love menampilkan kisah cinta antara Tita (Shandy Aulia) dan Adit (Samuel Rizal). Mereka harus menyingkirkan rasa benci terhadap satu sama lain setelah tahu telah dijodohkan.

5. Dulu Kita Masih Remaja –
Soundtrack film Indonesia remaja teranyar datang dari awal 2018. Judulnya Dulu Kita Masih Remaja dan dinyanyikan oleh The Panas Dalam Bank. Lagu ini merupakan soundtrack film Dilan 1990.
Lirik dan nuansa Dulu Kita Masih Remaja tergolong sederhana. Ini sesuai dengan kisah cinta manis antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla). Dilan jatuh cinta kepada Milea dan berusaha mendapatkannya dengan cara ajaib.

Film Jadul Indo Asoy Indehoy

Film Jadul Indo Asoy Indehoy

mediaindonesia.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  film jadul yang dicari karena diisi dengan adegan hot dan asoy. Berikut ini artikel yang memberikan daftar film-film jadul yang dicari banyak orang karena alasan indehoy .

1. Bernapas Dalam Lumpur
Film lawas yang diarahkan oleh sutradara Turino Djunaedy dan Zainal Abdi ini menggaet Suzanna sebagai pemeran utama. Film ini menampilkan banyak adegan seks dan perkosaan hampir di sepanjang filmnya.

Bahkan tidak jarang beberapa penonton film Indonesia mencari film ini hanya untuk menampilkan adegan dimana Suzanna atau pemeran lainnya yang sedang berhubungan seks, dan tapa sensor!

2. Yang Muda Yang Bercinta
Sebelum menjadi penyair, WS Rendra pernah bermain di film panas. Bersama Yati Octavia, WS Rendra tampil di film Yang Muda Yang Bercinta yang aslinya merupakan film drama romantis.

Namun, di film ini sangat banyak ditemukan berbagai macam adegan yang menampilkan asoy indehoy antara WS Rendra dan Yati Octavia.

3. Bangkitnya Si Mata Malaikat
Salah satu ciri khas dari film lawas Indonesia adalah kehadiran film dengan genre silat. Salah satu yang menarik perhatian adalah film Bangkitnya si Mata Malaikat.

Pemeran utamanya saat itu adalah Advent Bangun yang berperan sebagai si Mata Malaikat. Dalam beberapa adegan, peran si Mata Malaikat terlibat dalam adegan sex, karena cerita di film tersebut melibatkan Mata Malaikan jatuh cinta dengan seorang gadis desa.

Pada suatu kesempatan di tengah-tengah hutan, Mata Malaikat akhirnya tidak kuat lagi menahan nafsunya dan melepas rasa birahinya kepada karakter wanita yang dicintainya.

Baca Juga : Film Horror Indo Ready Tonton Ulang

4. Cinta dan Nafsu
Judul filmnya memang mengundang banyak pikiran-pikiran liar di kepala penonton. Apalagi jika bicara pemerannya, film ini mengandeng Ibra Azhari dan Feby Lawrence.Pada jaman dahulu, dua pemeran ini sudah akrab dan identik dengan film-film “panas.” Di film ini terdapat banyak adegan liar yang membuat detak jantung kamu berdegup dengan kencang.Karena tentu saja, Ibra dan Feby selalu menampilkan akting-akting yang memang mengajarkan kamu tentang pendidikan sex.

5. Montir Montir Cantik
Nama artis senior Eva Arnaz pada masa lalu dikenal sebagai bomb sex Indonesia. Nah, di film ini Eva Arnaz bekerja sebagai seorang montir yang kemudian jatuh cinta dengan salah satu pelanggannya.

Pertemuan ini membuat keduanya akhir jatuh cinta. Selanjutnya, bisa ditebak, Eva Arnaz dan pemeran yang menjadi pasangannya lebih banyak memadu cinta. Salah satu adegan yang sengaja dipercepat adalah ketika mereka berdua bercinta di kamar mandi.

6. Panther
Jika di awal tahun, film dari Marvel, Black Panther menjadi hits, maka pada masa lalu sebuah film berjudul Panther pun pernah menggapai sukses. Film Panther merupakan salah satu film aksi laga plus dewasa.Pemeran utamanya adalah Barry Prima dan aktris cantik saat itu Malfin Shayna. Meskipun film aksi, namun banyak adegan panas dengan yang ditampilkan antara Barry Prima Malfin Shayna

7. Godaan
Film jadul Indonesia lainnya merupakan film drama yang berjudul Godaan. Pemerannya saat itu adalah Wieke Widowati dan Henry Surentu yang menampilkan banyak adegan-adegan menggairahkan. Meskipun film drama percintaan, namun banyak adegan-adegan percintaan yang sangat “dalam” antara Wieke Widowati dan Henry Surentu.Salah satunya adalah adegan ranjang yang melibatkan keduanya terlihat samar di balik kelambu.

8. Getaran Nafsu
Film berikutnya adalah Getaran Nafsu yang memang akan mengajak kamu merasakan getaran-getaran kecil di sepanjang filmnya. Apalagi kalau pemerannya adalah Ibra Azhari yang bersanding dengan Windy Chyndiana dan Diaz Astiza.Selain banyak adegan yang menampilkan keseksian perempuan, namun juga banyak adegan-adegan ranjang yang memang benar membuat tubuh kamu bergetar.

9. Wanita Jelmaan
Selain Eva Arnaz, nama Sally Marcelina dan Ranieta Manopo sebagai simbol seks film-film Indonesia. Banyak sekali adegan panas di dalam film ini, salah satunya adalah ketika adegan Ranieta Manopo yang sedang bercinta di dalam bathup bersama lawan mainnya dan hanya menggunakan pakaian tipis yang bisa terlihat langsung oleh mata penonton.

10. Pengantin Pantai Biru
Film yang benar-benar liar dan bercerita tentang Meriam Bellina dan Sandro Tobing yang tinggal di sebuah pantai yang jauh dari kehidupan modern. Nah, salah satu budaya di pulau ini adalah penduduknya yang tidak mengenakan pakaian sama sekali.

Hasilnya, akting Meriam dan Sandro Tobing di film ini benar-benar meningkatkan gairah kamu karena adegan yang diambil memang memperlihatkan keduanya tanpa busana.

Film Horror Indo Ready Tonton Ulang

Film Horror Indo Ready Tonton Ulang

mediaindonesia.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai Perayaan Halloween yang identik dengan berbagai keseraman dan kehadiran film horor bisa jadi pelengkap ‘kemeriahan’. Beberapa film horor terbaik Indonesia pun dapat menjadi opsi untuk menambah ‘kemeriahan’ Halloween. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai Film-film horror yang layak ditonton ulang.

Kuntilanak

Film yang horor Indonesia yang dirilis pada 2006. Disutradarai oleh Rizal Mantovani, film ini dibintangi Julie Estelle sebagai tokoh utama dan didukung aksi para aktor seperti Evan Sanders, Ratu Felisha, Ibnu Jamil, Lita Soewardi, dan Alice Iskak.Kisahnya berfokus pada Samantha yang memiliki kemampuan magis untuk memanggil kuntilanak. Setelah kematian sang ibu dan mendapat gangguan-gangguan dari ayah tirinya, Samantha/Sam memutuskan menyewa kamar kost di pinggiran kota.

Kamar kost yang ia sewa tampak angker dengan area pemakaman dan sebuah pohon beringin di depannya. Dari para penduduk sekitar, Sam mengetahui bahwa pohon itu disebut sebagai pohon kuntilanak.Ibu kost Sam, Yanti (Lita Soewardi), lantas menceritakan sejarah bangunan yang kini menjadi tempat kost itu. Dahulu, satu keluarga produsen batik bernama Mangkoedjiwo membuat pabrik batik dan mess pekerja di sana.

Namun kemudian, terjadi kebakaran besar yang memusnahkan aset-aset Mangkoedjiwo. Rumah itu pun menjadi satu-satunya aset Mangkoedjiwo yang layak huni.Kesuksesan Kuntilanak saat itu membuat sang sutradara lantas meneruskannya lewat dua buah sekuel.

Rumah Dara

Film horor thriller rilisan 2010 ini disutradarai Mo Brothers yang mengangkat kisah sekelompok pemuda terjebak di rumah milik seorang pembunuh misterius bernama Dara.Rumah Dara menjadi reuni antara aktris Julie Estelle dan Imelda Therinne setelah kolaborasi mereka dalam Kuntilanak 3.Sebelum Rumah Dara, karakter Dara telah lebih dulu dipopulerkan lewat segmen film pendek Dara dalam antologi film horor Takut: Faces of Fear yang juga disutradarai Mo Brothers dan dirilis pada tahun 2008 di berbagai festival film dunia.

Begitu positif tanggapan penonton terhadap film pendek Dara, para pencinta film pun menaruh harapan besar pada Rumah Dara.Pada akhir 2009, film ini ditayangkan di Singapura terlebih dulu dan mendapatkan rating M18 (untuk adegan sadis dan kekerasan). Rumah Dara lalu dirilis secara serempak di seluruh Indonesia pada awal 2010.Dalam akun Twitter resmi Rumah Dara, diumumkan bahwa film ini dicekal dan dilarang tayang di Malaysia karena tema yang dianggap bertentangan dengan hukum sensor film setempat. Rumah Dara pun menjadi film Indonesia pertama yang dicekal dan dilarang untuk tayang di Malaysia.

Pengabdi Setan

Film garapan Joko Anwar ini merupakan versi adaptasi dari horor lawas berjudul sama pada medio 80-an. Pengabdi Setan versi Joko bercerita soal perjuangan keras satu keluarga setelah ibu mereka yang sudah lama sakit akhirnya meninggal dunia.Bukan hanya berjuang dengan kondisi ekonomi pas-pasan, mereka juga harus berhadapan dengan hantu berwujud ibu yang kembali ke rumah.Film ini dibintangi oleh aktor dan aktris seperti Tara Basro, Dimas Aditya, Bront Palarae, Endy Arfian, Ayu Laksmi, Egi Fedly, M. Adhiyat, Fachri Albar, dan Asmara Abigail.

Teror Ibu yang menjadi ikon di film ini berhasil mengantarkan Pengabdi Setan menjadi film terlaris pada 2017 dengan penonton menembus 4.206.103.Kafir menggambarkan tentang satu keluarga yang mengalami kejadian tak terduga. Pada suatu malam, sang bapak (Teddy Syah) kesakitan dan mengeluarkan beling dari mulutnya sebelum meninggal dunia.Sejak saat itu, kehidupan keluarga itu berubah. Kedamaian mereka mulai terusik. Usai kepergian sang bapak, giliran sang ibu (Putri Ayudya) yang mendapatkan teror-teror gaib. Ia mulai bersikap aneh dan sering ketakutan.

Karena kejadian itu, sang ibu pun mencari pertolongan pada dukun kampung, Jarwo (Sudjiwo Tedjo). Namun, permintaan tolong itu justru turut membawa petaka bagi Jarwo. Dia meninggal secara misterius dan rumahnya hangus terbakar.Selain mereka, Kafir yang diarahkan oleh Azhar Kinoi Lubis ini juga dibintangi Indah Permatasari, Rangga Azof, Nadya Arina, dan lainnya.

Baca Juga: Gundala Film Aksi Seru Indo

Keramat

Keramat merupakan film horor dari Indonesia yang dirilis pada tahun 2009 dan disutradarai oleh Monty Tiwa. Film ini dibintangi oleh Poppy Sovia, Migi Parahita, Sadha Triyudha, Miea Kusuma, Dimas Projosujadi, Diaz Ardiawan, serta Brama Sutasara.Kisahnya berfokus pada sebuah tim produksi film berjudul Menari di Atas Angin berangkat dari Jakarta ke daerah Bantul dalam rangka melakukan pra-syuting.

Tim itu terdiri dari sang sutradara perempuan bernama Miea (Miea Kusuma), asisten sutradara Sadha (Sadha Triyudha), manajer produksi Dimas (Dimas Projosujadi), kedua pemain utama Diaz (Diaz Ardiawan) dan Migi (Migi Parahita).Selain tim utama, mereka juga ditemani tim behind-the-scene, yakni Poppy (Poppy Sovia) dan kameramen Cungkring (Monty Tiwa). Selama perjalanan menggunakan kereta, Poppy sebagai pewawancara merekam aktivitas tim produksi. Di Bantul, mereka dipandu oleh aktor lokal bernama Brama (Brama Sutasara).

Saat itu, kondisi Migi kurang baik, terlebih setelah di mobil, tim diganggu seseorang yang menyuruh mereka untuk pulang. Sesampai di desa terpencil untuk pra-syuting, banyak keanehan yang terekam kamera, seperti bunyi gamelan, suara orang menangis, dan penampakan perempuan berbaju Jawa.Ragam konflik dalam produksi mereka pun terjadi, diikuti dengan sejumlah gangguan dari makhluk halus.

Gundala Film Aksi Seru Indo

Gundala Film Aksi Seru Indo

mediaindonesia.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  salah satu film aksi laga baru di Indonesia. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai film Gundala

Sukar rasanya menilai Gundala (2019) sebagai film yang bagus. Tapi di sisi lain, film ini juga tidak buruk. Kata yang mungkin tepat untuk menilai Gundala adalah “biasa.”Ya, film yang disutradarai dan ditulis Joko Anwar ini biasa saja.Ada beberapa faktor yang menyebabkan film ini mendapat label itu. Mulai dari eksekusi cerita, logika cerita, perpindahan antar adegan, pembentukan karakter dan koreografi masih belum terasa ajek.

Narasi film pembuka dari Jagat Sinema BumiLangit ini sendiri jauh berbeda dari seri komik Gundala Putra Petir. Dalam komik tidak pernah diceritakan masa kecil Sancaka alias Gundala. Tapi dalam film ini ada. Joko menulis kisahnya berdasarkan catatan Harya Suraminata (Hasmi), kreator Gundala.Sejak kecil Sancaka (Muzaki Ramdhan) hidup kekurangan. Ayahnya (Rio Dewanto) buruh pabrik, sementara ibunya (Marissa Anita) tidak bekerja. Sancaka kecil pun menjadi yatim ketika ayahnya meninggal saat berlangsung demonstrasi di pabrik.

Sancaka kemudian tinggal di jalanan dan belajar menjalani hidup yang keras. Tak ayal Sancaka tumbuh dewasa –diperankan Abimana Aryasatya– menjadi tahan banting dan piawai bela diri. Hanya saja, Sancaka hanya memikirkan diri sendiri.Dari titik inilah kemudian narasi kepahlawanan Gundala dimulai. Tepatnya saat Sancaka bekerja sebagai petugas keamanan di perusahaan percetakan dan tinggal di rumah petakan. Perlahan ia sadar memiliki kekuatan untuk bisa melawan berbagai kejahatan. Termasuk melawan Pengkor (Bront Palarae), seorang mafia kaya yang mengoordinir sekawanan penjahat untuk melakukan berbagai pekerjaan kotor.

Sayang cerita tidak dieksekusi dengan menarik. Aksi-aksi Gundala melawan kejahatan berlangsung datar dan tidak mengundang emosi.Salah satu masalahnya adalah sumber motivasi Sancaka menjalani peran sebagai Gundala. Jika superhero acap kali dinarasikan punya satu trauma atau momen yang kemudian memantik rasa heroisme dalam diri, Sancaka tidak demikian. Ia tak punya motivasi kuat, dan bahkan bisa disebut kebetulan belaka jika kemudian memilih jalan memerangi para penjahat. Penonton pun kurang terangsang untuk merasa bahwa Gundala benar-benar pahlawan, patriot, dan jagoan.

Persoalan berikutnya adalah narasi yang kurang ‘ramah’ bagi film yang diberi rating 13 tahun ke atas. Bahkan, rasa-rasanya cerita juga terlalu sarat isu untuk mereka remaja berusia sampai 18 tahun yang ingin menonton Gundala sebagai hiburan.Konflik yang ditampilkan adalah kesenjangan sosial antara kaum bawah dengan kaum atas. Selain direpresentasikan oleh orang kaya raya, golongan atas ini diwakili oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Untuk memahami cerita Gundala secara utuh, butuh berpikir lebih dan menonton dengan konsentrasi.

Kelemahan lainnya adalah beberapa cerita yang bolong atau plot hole dalam film berdurasi 123 menit tersebut. Namun tampaknya hal ini disengaja agar cerita Gundala bisa berkembang ke seri-seri berikutnya di Jagat Sinema BumiLangit.Selanjutnya adalah logika cerita yang kurang rapi dan matang. Ada beberapa adegan yang menimbulkan pertanyaan mengapa bisa terjadi. Salah satunya ketika tiba-tiba saja kontak Gundala amat mudah ditemukan oleh sosok yang baru ditemuinya satu kali.

Baca Juga : Film Terlaris yang Diadaptasi dari Novel 

Pun dengan perpindahan adegan yang terasa membingungkan dan melompat. Seperti ketika adegan berpindah dari perkumpulan sejumlah anggota DPR di suatu tempat, menuju saat Sancaka berdiskusi dengan Wulan (Tara Basro) dan Agung (Pritt Timothy) tentang kondisi keamanan.Pembentukan karakternya pun terasa agak dipaksakan, terutama barisan anak buah Pengkor. Joko seperti terlalu ambisius untuk membentuk karakter-karakter yang ternyata berakhir begitu saja.

Faktor yang membuat Gundala (lagi-lagi) semakin terasa biasa saja adalah koreografi. Banyak gerakan baku hantam yang kaku dan terasa dibuat-buat karena pemain menggerakkan anggota tubuh secara perlahan. Terasa sangat hafalan. Cecep Arif Rahman yang bertanggung jawab atas koreografi tersebut tampaknya belum berada di level Iko Uwais atau Yayan Ruhian, yang mampu membuat adegan terasa nyata.

Satu nilai plusnya adalah efek visual Gundala tergolong bagus untuk film Indonesia. Hanya ada sedikit adegan yang terasa sebagai polesan. Itu pun masih nyaman dilihat dan tak mengganggu mata. Film ini juga ditopang oleh akting yang bagus dari seluruh pemain utama. Terlebih Bront Palarae yang bisa dikatakan merebut perhatian penonton dari Abimana.Meski dengan sederet catatan tersebut, Gundala sebagai pilot project Jagat Sinema Bumilangit cukup untuk menjadi gerbang. Cukup membuat penasaran bagaimana plot hole-plot hole akan dikembangkan di masa depan, dan cukup mengapungkan harapan bahwa film kedua Gundala akan dibuat lebih baik lagi.