Vaksin Dari Covid Nineteen Ala Bill Gates

Vaksin Dari Covid Nineteen Ala Bill Gates

mediaindonesia.web.id Pada kesempatan kali ini kammi akan memberikan informasi berisikan ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Vaksin Dari Covid Nineteen Ala Bill Gates. Dari sumber yang terpercaya dan pencarian yang kami telusuri,berikut ini beberapa artikel yang mengulas dan membahas mengenai Vaksin Dari Covid Nineteen Ala Bill Gates

Pendiri Microsoft, Bill Gates mengungkapkan kabar baik terkait virus corona (COVID-19). Seperti diketahui, ia melalui Bill and Milanda Gates Foundation telah berdonasi untuk membantu pengembangan vaksin virus corona (COVID-19).

Dilansir dari laman Ink Stone News, Jumat (10/4/2020) Bill Gates mengungkapkan sepuluh dari 100 kandidat vaksin COVID-19 menjanjikan. Ia menambahkan bahwa pengembangan vaksin yang didanai oleh Bill dan Melinda Gates Foundation akan terus bergerak mengembangkan vaksin dengan tepat dan sedikit risiko pada efek samping.

Sepuluh vaksin yang menjanjikan termasuk vaksin Moderna-NIAID yang didanai oleh konsorsium internasional yang berbasis di Oslo, Norwegia. Vaksin tersebut telah memasuki fase pertama percobaan manusia pada 16 Maret, dan yang lain akan mulai menguji dalam bulan berikutnya.

Namun, Bill Gates memperkirakan bahwa vaksin COVID-19 yang efektif tidak mungkin sampai di suatu tempat sekitar bulan September 2021.

Bill Gates juga memprediksi jika Amerika Serikat mampu mengatasi kasus COVID-19 dalam waktu April-Mei 2020, semuanya akan kembali dengan normal lebih cepat.

“Pabrik akan kembali dibuka, konstruksi juga, dan sekolah akan kembali normal,” imbuh Bill GatesPara peneliti, ilmuwan, dan ahli virus di dunia masih berjibaku menemukan vaksin untuk melawan virus corona SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Dari sekian banyak penelitian, ada kabar baik dari satu penelitian yang dilakukan oleh Paul McCray, ahli paru pediatrik di University of Iowa bersama para ilmuwan lainnya.

Dalam penelitian ini yang dipublikasikan dalam jurnal mBio pada 7 April 2020, disebutkan para ilmuwan yang terlibat telah mengembangkan suatu vaksin baru. Vaksin baru tersebut mampu melindungi hewan tikus (yang digunakan sebagai percobaan) dari MERS (Middle East Respiratory Syndrome). MERS merupakan penyakit infeksi pernapasan, berasal dari keluarga yang sama dengan COVID-19. Dalam penelitian tersebut, semua hewan tikus yang diberi vaksin bisa selamat dari yang seharusnya mematikan akibat virus corona MERS-CoV.

Namun, seperti dikatakan dokter Paul, vaksin baru ini masih memiliki jalan yang panjang sebelum benar-benar siap bisa digunakan untuk manusia.

Tetapi setidaknya, hasil penelitian tersebut bisa dibilang menjanjikan. Para peneliti tengah mengadaptasi vaksin untuk membuat versi yang akan efektif melawan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19.

“Ini vaksin untuk model tikus, jadi kami tidak dapat mengklaim bahwa vaksin itu sempurna bisa meniru sistem kekebalan tubuh manusia dan apa yang akan terjadi pada manusia. Meski begitu, tapi kami pikir ini adalah langkah pertama yang sangat menggembirakan,” ujar Paul, seperti dikutip Popularscience, Kamis (9/4/2020).

Vaksin baru yang dikembangkan dokter Paul dan rekan-rekan ilmuwannya ini adalah vaksin yang terdiri dari virus yang tidak berbahaya. Artinya virus yang dapat menginfeksi manusia dan hewan lain tetapi tidak menyebabkan kerusakan,disebut PIV5 (virus parainfluenza 5), yang menginfeksi banyak binatang mamalia tanpa menyebabkan penyakit apa pun.

Paul dan timnya mencoba memodifikasi virus jinak itu untuk membawa protein lonjakan MERS. Protein yang dikenal dalam imunologi sebagai antigen, sesuatu yang digunakan oleh sistem kekebalan tubuh untuk mengembangkan antibodi yang membuat kita kebal terhadap infeksi lebih lanjut. Menurut Paul, antigen ini adalah kunci untuk menciptakan kekebalan yang efektif.

Baca Juga : Satelit Nusantara Dua Gagal Mengorbit

Seperti semprotan hidung yang digunakan untuk beberapa vaksin flu, vaksin ini dihirup bukan diberikan melalui suntikan. Namun, virus yang tidak berbahaya ini telah dikaitkan dengan batuk kennel pada anjing, jadi versi langsung dari virus ini telah dimasukkan dalam vaksin anjing selama bertahun-tahun. Sebab sudah banyak orang yang sebetulnya terpapar, tapi tidak terjadi efek berbahaya,

Secara pengklasifikasian tingkat bahaya, MERS yang punya tingkat kematian 35 persen menjadi lebih mematikan daripada COVID-19. Namun, tidak seperti virus yang menyebabkan SARS atau MERS, SARS-CoV-2 dapat mereplikasi dengan sangat mudah di saluran pernapasan bagian atas yang meliputi hidung, sinus, dan laring. Apalagi COVID-19 juga dapat ditularkan oleh orang yang mengalami sedikit atau tanpa gejala, membuatnya lebih sulit untuk dideteksi dan dilacak.

Dalam percobaannya, Paul dan timnya mengimunisasi tikus yang mereka rekayasa genetikanya agar rentan terhadap MERS-CoV. Hasilnya dosis tunggal yang disemprotkan ke hidung tikus ternyata sudah cukup untuk melindungi tikus dari dosis mematikan MERS-CoV.

Sebaliknya, 75 persen tikus yang disuntikkan vaksin versi berbeda (dibuat dari yang tidak aktif, atau dibunuh) MERS-CoV menyerah pada penyakit itu.

Ketika para peneliti memeriksa paru-paru tikus, mereka menemukan tanda-tanda bahwa vaksin telah membangkitkan sistem kekebalan hewan. Terlihat, tikus telah menciptakan antibodi dan sel T (sel darah putih yang membantu tubuh mengenali patogen yang telah terpapar sebelumnya dan meningkatkan respons imun) khusus untuk MERS-CoV.