Koran Sindo

Koran Sindo

Koran Sindo, sebuah surat kabar di Indonesia yang terbit perdana pada tanggal hari Rabu, 29 Juni 2005 di Jakarta. Koran Sindo terbit selama 7 hari selama 1 minggu, dengan format ukuran panjang 7 kolom dan tinggi 54 cm.

Target pembacanya adalah masyarakat kelas menengah ke atas, pendidikan Sarjana, segmentasi usia dari 18 tahun sampai dengan 40 tahun. Dengan diferensiasi pembaca laki-laki sebanyak 60% dan pembaca wanita sebanyak 40%.

Baca juga : Cek & Ricek

Harga Koran
Saat perdana terbit, Koran Sindo dihargai Rp 2000,- per eksemplar. Namun, harga tersebut merupakan harga yang sangat terjangkau bila dibandingkan dengan surat kabar lain, terlebih saat itu Harian Sindo terbit dengan 40 halaman setiap hari.

Harga tersebut terus bertahan hingga pertengahan tahun 2006. Saat itu, karena harga kertas yang semakin naik, Koran Sindo pernah dijual dengan harga Rp.4000,- per eksamplar, namun pada tahun 2007, harga tersebut kembali turun menjadi Rp.3.000,- . Untuk Edisi lokal, Koran Sindo hanya dihargai Rp.2500,- per eksemplar.

Koran Sepak Bola
Pada 1 Desember 2010, Koran Sindo meluncurkan koran sepak bola yang bernama Hattrick. Koran ini berisi berita sepak bola. Slogannya adalah Terlengkap dalam Sepak Bola.

investor daily

Investor Daily

mediaindonesia.web.id – Investor Daily adalah surat kabar Indonesia yang memberitakan tentang berita ekonomi bisnis , yang mencakup pelaku bisanis dan pengambil keputusan.

Surat kabar berbahasa Indonesia yang didirikan pada 26 Juni 2001 dan merupakan surat kabar yang berkonsentrasi pada kegiatan pasar modal. Pertama kali terbit siang dengan nama Investor Indonesia di bawah pimpinan redaksi Adi Hidayat.

Baca juga : Keng Po

Pemiliknya adalah Tito Sulistio. Namun, pada tahun 2002, Lippo Group masuk sebagai pemegang saham di Investor Group dan saat ini telah menguasai secara penuh saham Investor Group.

Setelah Lippo Group masuk, nama “Investor Indonesia” diubah menjadi “Investor Daily Indonesia”. Selain membahas berita-berita ekonomi bisnis, koran ini juga menambahkan beberapa rubrik lain di antaranya rubrik olahraga, gaya hidup dan kosmopolitan. Sirkulasi Investor Daily mencakup kota-kota bisnis di Indonesia dengan target pembaca pelaku bisnis dan pengambil keputusan.

keng po

Keng Po

mediaindonesia.web.id – Keng po adalah surat kabar bahasa mandarin Indonesia yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1923 dan berperan penting dalam sejarah pers Indonesia saat masa kemerdekaan.

Tjoe Bou San atau Keng Po setelah perbedaan pendapat dengan Hauw Tek Kong, pemimpin harian Sin Po. Harian ini mengalami perkembangan yang pesat di bawah kepemimpinan Khoe Woen Sioe dan Injo Beng Goat.[1] Pada 1 Agustus 1957, Harian Keng Po dilarang terbit oleh pemerintah Indonesia saat itu.

Lihat juga : GTV

Keng Po juga sering memunculkan berita-berita politik di seputar gerakan-gerakan yang kian gencar melakukan gebrakan. Keng Po aktif di dalamnya sebagai koran yang mendukung munculnya revolusi untuk menciptakan tatanan baru dalam kehidupan di Hindia Belanda. Pada 13 September 1924, Keng Po menghujat pemerintah yang melarang dan membatasi rakyat untuk melakukan perserikatan.

Pada zaman pemerintahan Soekarno, koran Keng Po dianggap berkaitan erat dengan Partai Sosialis Indonesia sehingga dibubarkan. Koran yang diterbitkan dalam bahasa Tionghoa-Melayu ini sempat berganti nama menjadi Pos Indonesia. Sebelum terjadi Perang Dunia II, Keng Po bersaing ketat dengan Sin Po dalam menerbitkan berita dan isu politik pada masa itu. Perbedaan antara kedua surat kabar tersebut adalah Keng Po menganjurkan kaum peranakan Tionghoa untuk memilih nasionalisme Indonesia, sedangkan Sin Po lebih menganjurkan nasionalisme Tiongkok.a manusia.

Tribun Medan

Tribun Medan

Tribun Medan – Indonesia yang pertama kali diterbitkan tahun 2009 dan termasuk dalam grup kompas gramedia, tribun medan adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di sumatera utara.

Kompas Gramedia mengambil alih kepemilikan harian Sriwijaya Post di Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 1987, Menteri Penerangan RI agar koran-koran besar membantu koran-koran daerah yang terhambat permasalahan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers).

Setelah itu, pada tahun 1971 muncul Percetakan Gramedia, 1972 Radio Sonora, yang berarti suara merdu. Pada 1974 lahir Gramedia Pustaka Utama. Pada tahun 1978 Kompas sempat dibredel oleh pemerintah Orde Baru. Dengan idealisme PK Ojong, ia dengan tegas menyatakan tidak mau diatur oleh pemerintah.

Baca Juga:

Pada tahun 1980, Kompas kembali berdiri dan ditangani oleh Jakob Oetama. Pada tahun 1981, Kompas Gramedia kembali melahirkan hal yang baru, yakni Grahawita Santika.

Pada 1987 muncul Sriwijaya Pos, yang merupakan cikal bakal koran daerah. Di tahun 1988, lahir Graha Kerindo Utama, Kontan di tahun 1996 , Kompas.com di tahun 1998, Warta Kota tahun 1999, lalu pada tahun 2005 Kompas Gramedia melahirkan Universitas Multimedia Nusantara dan pada tahun 2009 lahir pula Kompas TV.

Pada perkembangan selanjutnya, Persda memperkuat bisnisnya dengan mendirikan sendiri koran daerah di hampir seluruh provinsi dengan merek Tribun. Diawali dengan Tribun Kaltim pada tahun 2003, lalu diikuti dengan Tribun Timur, Tribun Jabar, dan surat kabar bermerek Tribun lainnya.

Harian Matahari

Harian Matahari

Harian Matahari – Pertama kali di Semarang yang dirintis oleh Kwee Hing Tjiat dibantu oleh koleganya yang bernama Oei Tiong Ham pada tanggal 1 Agustus 1934 sebuah surat kabar berbahasa Melayu dan Cina.

Awalnya, Kwee Hing Tjiat ingin memberi nama surat kabar ini Merdika dan mengecat merah kantornya. Sayangnya, niatan tersebut urung diwujudkan karena dilarang oleh Pemerintah Belanda kala itu. Nama surat kabar ini pun diganti menjadi Matahari.

Pada zaman kolonial Belanda, sekitar tahun 1930-an satu-satunya koran yang terbit di Yogyakarta berhuruf latin berbahasa Jawa adalah Sedya Tama. Direksi penerbitan koran tersebut adalah R. Roedjito dan dicetak oleh penerbit Mardi Moelja. Pimpinan redaksi dipercayakan pada Bramono (Alfonsius Soetarno Dwijosarojo). Ketika Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang segalanya kemudian dikuasainya, termasuk media komunikasi massa seperti surat kabar, majalah, kantor berita, radio, film, sandiwara dan sebagainya.

Pada tahun 1942 masa pendudukan Jepang, Sendenbu (barisan propaganda Jepang) masih membiarkan Sedya Tama terbit tetapi dengan syarat harus menggunakan bahasa Indonesia. Namun karena adanya banyak tekanan dari pemerintah Jepang akhirnya R. Roedjito segera menutupnya.

Baca Juga:

Selanjutnya kantor yang terletak di Jl. Malioboro itu (sekarang sebelah selatan Hotel Garuda) dirampok oleh Jepang. Kemudian dijadikan sebagai kantor penerbitan koran Jepang dengan nama Sinar Matahari. Para pemuda Yogyakarta yang dimusuhi Belanda waktu itu bekerja di harian Sinar Matahari. Waktu itu dipimpin oleh Raden Mas Gondhojuwono (ex interneer Digul). Juga para pemuda lain seperti Bramono, Soemantoro dan Samawi.

Karena kebutuhan rakyat akan informasi tentang perkembangan yang terjadi di Indonesia dan dunia pada umumnya, maka muncul tekad Samawi dan teman-teman untuk menerbitkan koran baru. Tanggal 26 September 1945, segel Harian Sinar Matahari dibuka. Nama baru akhirnya diperoleh dari Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo (ketua KNID Yogyakarta), yaitu Kedaulatan Rakyat.

Harian Analisa

Analisa

Analisa – Saat pertama kali terbit, harian Analisa berbentuk tabloid. Meskipun Surat Izin Terbit (SIT) berlaku untuk harian, tetapi sekitar setahun Analisa terbit sebagai mingguan pada setiap hari Sabtu. Ketika itu surat kabar tersebut masih dicetak secara hand-set. Sejak tanggal 21 Maret 1973, Analisa sepenuhnya sebagai harian yang terbit tujuh kali seminggu dan bentuknya bukan lagi tabloid, melainkan broadsheet.

Pemilihan nama bukanlah hal yang mudah. Menjelang kelahirannya, pemilihan nama dirembugkan. Soffyan mengusulkan nama Analisa, Narmin Suti mengajukan nama Tinjauan, dan A. Manan Karim menyarankan nama Sikap. Akhirnya, dengan kesepakatan bersama, dipilihlah nama Analisa, sedangkan jenis huruf dipilih oleh F.N. Zainoeddin.

Harian Analisa terbit dengan moto: Membangkitkan Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan. Pemimpin redaksi yang pertama adalah F.N. Zainoeddin. Beliau meninggal dunia pada 18 April 1972. Penggantinya, sebagai pemimpin redaksi hingga sekarang adalah Soffyan. Wakil pemimpin redaksi adalah Narmin Suti dan A. Manan Karim. Namun, A. Manan Karim juga telah tiada sejak tahun 1983 sehingga digantikan oleh Ali Soekardi. Narmin Suti juga telah meninggal dunia pada 8 Maret 1995. Patut dicatat bahwa pada saat menjadi harian penuh, Analisa merupakan harian pertama di daerah ini yang terbit dengan 8 halaman kemudian menjadi 12 halaman sejak September 1973, dan meningkat lagi menjadi 16 halaman sejak Oktober 1991.

Jurnalis memiliki peran penting dalam penyebaran informasi yang benar. Bahkan, jurnalisme kini harus ramah anak dan khalayak.
Tak hanya itu, jurnalistik pun kini merupakan kegiatan yang menyenangkan, karena bisa dilakukan siapa saja, termasuk para remaja. Apalagi, kegiatan jurnalistik sudah menjadi salah satu tren di kalangan siswa di sekolah.

Baca Juga:

Dalam rangka menambah pengetahuan dan pengalaman siswa/i SMP Global Prima School melakukan kunjungan ke Harian Analisa Medan yang bertujuan untuk mengetahui secara jelas mengenal dan mempelajari lebih dalam tentang jurnalistik dan sejarah Harian Analisa.

Sekitar 50 siswa turut berpartisipasi dalam kunjungan tersebut. Para siswa juga tampak begitu tertarik ketika Redaktur Minggu, M Arifin menjelaskan tentang sejarah singkat Harian Analisa.

Harian Analisa merupakan surat kabar termuda pada saat kelahirannya tanggal 23 Maret 1972 dibanding enam harian lainnya ketika itu, yakni Mimbar Umum, Waspada, Bukit Barisan, Sinar Indonesia Baru, Medan Pos dan Garuda. Akan tetapi, dalam usia yang relatif muda itu, Analisa berupaya mencapai beberapa kemajuan sehingga berada sejajar dengan berbagai surat kabar harian yang ada di Kota Medan.

“Saat pertama terbit, Harian Analisa masih berbentuk tabloid. Meski Surat Izin Terbit (SIT) berlaku untuk harian, namun untuk sementara Analisa terbit sebagai mingguan setiap hari Sabtu, selama satu tahun dan masih dicetak secara hand-set. Namun, pada 21 Maret 1973, Analisa sepenuhnya sebagai harian yang terbit tujuh kali seminggu dan bentuknya tak lagi tabloid, namun broadsheet,” kata Arifin di hadapan para siswa, staf administrasi, guru serta wakil kepala sekolah yang turut hadir, Rabu (23/1).

Arifin mengungkapkan, motivasi menerbitkan Harian Analisa ketika itu, ingin memajukan dunia pers khususnya surat kabar harian di Medan. Harian yang terbit dengan moto “Membangkitkan Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan” itu turut mendukung program pembangunan seraya menerapkan fungsi dan peranan pers.

“Dalam pemberitaannya, Harian Analisa menyajikan berbagai berita dari dalam dan luar negeri, di antaranya, berita Nasional, Kota Medan, Daerah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Mancanegara, Ekonomi, Olahraga dan Hiburan. Sedangkan dalam edisi Minggu, pembaca disajikan rubrik khusus seperti Pariwisata, Jentera, Musik, Budaya, Taman Riang, Komunitas dan lainnya,” ungkapnya.

Berbagai penjelasan tentang sejarah dan dunia jurnalistik yang disampaikan, para siswa begitu tertarik dan sekitar belasan siswa turut memberikan pertanyaan seputar keredaksian, surat kabar dan perkembangan koran di era digital saat ini.

Lebih lanjut, Wakil Kepala Sekolah 3 SMP Global Prima School, M Akhyar Maksum menambahkan, pihaknya sangat senang bisa melakukan kunjungan ke Harian Analisa. Apalagi, para siswa juga begitu aktif dalam berdialog dan memberikan berbagai pertanyaan seputar surat kabar.

“Kunjungan ini memberikan banyak manfaat dan juga motivasi kepada para siswa. Apalagi, jika siswa yang memiliki bakat menulis cerpen, membuat puisi, karikatur dan lainnya bisa mengasah keterampilannya,” ujarnya.

Harian Andalas

Harian Andalas

Harian Andalas – Diterbitkan 14 Juli 2005, sebuah surat kabar harian yang pertama kali di Medan, Sumatera Utara. Gaya pemberitaannya pun non-sekterian, tidak primordial, menjauhi prasangka atas asal usul keturunan, ras, suku ataupun agama.

surat kabar adalah suatu penerbitan yang ringan dan mudah dibuang, biasanya dicetak pada kertas berbiaya rendah yang disebut kertas koran, yang berisi berita-berita terkini dalam berbagai topik. Topiknya bisa berupa even politik, kriminalitas, olahraga, tajuk rencana, cuaca. Surat kabar juga biasa berisi karikatur yang biasanya dijadikan bahan sindiran lewat gambar berkenaan dengan masalah-masalah tertentu, komik, TTS dan hiburan lainnya.

Ada juga surat kabar yang dikembangkan untuk bidang-bidang tertentu, misalnya berita untuk politik, property, industri tertentu, penggemar olahraga tertentu, penggemar seni atau partisipan kegiatan tertentu.

Baca Juga:

Jenis surat kabar umum biasanya diterbitkan setiap hari, kecuali pada hari-hari libur. Surat kabar sore juga umum di beberapa negara. Selain itu, juga terdapat surat kabar mingguan yang biasanya lebih kecil dan kurang prestisius dibandingkan dengan surat kabar harian dan isinya biasanya lebih bersifat hiburan.

Kebanyakan negara mempunyai setidaknya satu surat kabar nasional yang terbit di seluruh bagian negara.

Pemilik surat kabar adalah pihak penanggung jawab dalam kaitannya dengan keberlangsungan medianya. Redaktur adalah beberapa jurnalis yang bertanggung jawab atas rubrik tertentu. Sedang yang bertanggung jawab terhadap isi surat kabar disebut editor. Di samping kemutlakan adanya peran wartawan, pewarta atau jurnalis yang memburu berita atas instruksi dari redaktur atau pemimpin redaksi.

Pengasuh harian Andalas sebagian merupakan pemilik modal harian Analisis. Harian in pun telah dibeli sahamnya oleh pengusaha iklan Star Indonesia dari harian Analisis. Sejumlah nama yang yang dulunya ada di harian Analisis bekerjasama dengan Dr Indra Wahidin dan pengusaha iklan Iskandar ST untuk menerbitkan harian Andalas.

Harian ini berkantor di Jalan Tengku Amir Hamzah No. 182, 184, 186, Medan.

Harian Bali Post

Harian Bali Post

Harian Bali Post – Bali Post adalah sebuah surat kabar harian ibu kota provinsi yang terbit di Jalan Kepundung Nomor. 67, Kawasan Desa Daun Puri Kangin, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali, Indonesia. Harian Pagi Bali Post yang mengklaim sebagai “Pengemban Pengamal Pancasila” merupakan harian terbesar di Kota Denpasar dan merupakan salah satu harian dengan oplah terbesar di Bali.

Sejarah

Bali Post didirikan oleh Ketut Nadha, pelopor pers dari Provinsi Bali dan Nusa Tenggara. Cikal bakal Bali Post adalah “Harian Suara Indonesia” yang diterbitkan Nadha pada tanggal 16 Agustus 1948, saat revolusi bersenjata di Indonesia masih terjadi. Ketika situasi politik berubah, majalah itu harus berganti nama jadi “Harian Suluh Indonesia” pada tahun 1966 dan berganti lagi menjadi “Harian Suluh Marhaen” pada tanggal 1 Juni 1966 sampai dengan pada tanggal 1 Mei 1971.

Nadha dan kawan-kawannya lalu mendirikan “PT Bali Press” dan menerbitkan “Harian Umum Pagi Bali Post” dengan Surat Izin Terbit No. 0359/PER/SK/DIR PP/SIT/1971 mulai sejak pada tanggal 1 September 1971. Koran yang terbit sejak pada tahun 1972 ini juga menjadi anggota Serikat Penerbit Surat Kabar (SPSK).

Kantor pertama Bali Post beralamat di Jalan Bisma Nomor. 1, Kawasan Desa Daun Puri, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar (ibu kota Provinsi Bali).

Pada tahun 1976, Bali Post dengan alamat itu juga menjadi kantor redaksi surat kabar Suluh Marhaen yang dinaungi “Yayasan Gesuri” yang dipimpinan oleh Raka Wiratma. Di Bali Post, Ketut Nadha menjadi pemimpin umum, Raka Wiratma jadi penanggung jawab dan pemimpin redaksi, serta Widminarko sebagai wakilnya. Ketiganya menjadi tokoh-tokoh pers di Bali.

Kemudian terbit pertama kali dengan slogan dan motto tagline “Pengemban Pengamal Pancasila”. Pada awalnya, koran ini hanya terbit empat halaman, sebagaimana lazimnya surat kabar pada masa itu. Pada awal dekade 1980-an, oplahnya tak tersaingi oleh surat kabar lain, seperti Nusa Tenggara dan Karya Bhakti. Tirasnya pada tahun 1980 sampai dengan pada tahun 1984 yang berkisar dari 19.200 hingga 24.500-eksemplar per hari. Pada tahun 1988 tiras itu naik menjadi sekitar 39.000-eksemplar per hari.

Pada dekade itu edisi mingguannya menjadi mitra pemerintah dalam program “Koran Masuk Desa”. Oplah edisi itu 21.000-eksemplar daripada tahun 1980 sampai dengan pada tahun 1984, 23.800-eksemplar daripada tahun 1985 sampai dengan pada tahun 1987, dan melompat ke 35.500-eksemplar mulai sejak 1988. Kontribusi koran-koran lain dalam program Koran Masuk Desa tak lebih dari separuh oplah Bali Post.

Sepeninggal Nadha, tongkat pimpinan dipegang putranya adalah Satria Naradha yang mengembangkan Kelompok Media Bali Post (KMB) dengan berkonglomerasi media yang tersebar di berbagai segmen, dari anak-anak hingga orang tua.

Pada tahun 2007, Bali Post juga memberi “Penghargaan K Nadha Nugraha” kepada insan pers dan warga Bali yang memberikan pengabdian nyata dalam bentuk apa saja dan mengharumkan nama Bali.

Harian Jawa Pos

Harian Jawa Pos

Harian Jawa Pos – Jawa Pos adalah surat kabar harian yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur. Jawa Pos merupakan harian terbesar di Jawa Timur, dan merupakan salah satu harian dengan oplah terbesar di Indonesia. Sirkulasi Jawa Pos menyebar di seluruh Jawa Timur, Bali, dan sebagian Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Jawa Pos mengklaim sebagai “harian nasional yang terbit dari Surabaya”.

Sejarah

Jawa Pos didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949 dengan nama Djava-Post. Saat itu The Chung Shen hanyalah seorang pegawai bagian iklan sebuah bioskop di Surabaya. Karena setiap hari dia harus memasang iklan bioskop di surat kabar, lama-lama ia tertarik untuk membuat surat kabar sendiri. Setelah sukses dengan Jawa Pos-nya, The Chung Shen mendirikan pula koran berbahasa Mandarin Hwa Chiao Sien Wen dan Belanda de Vrije Pers.

Bisnis The Chung Shen di bidang surat kabar tidak selamanya mulus. Pada akhir tahun 1970-an, omzet Jawa Pos mengalami kemerosotan yang tajam. Tahun 1982, oplahnya hanya tinggal 6.800 eksemplar saja. Koran-korannya yang lain sudah lebih dulu pensiun. Ketika usianya menginjak 80 tahun, The Chung Shen akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Dia merasa tidak mampu lagi mengurus perusahaannya, sementara tiga orang anaknya lebih memilih tinggal di London, Inggris.

Kepemimpinan Dahlan Iskan

Pada tahun 1982, Eric F.H. Samola, waktu itu adalah Direktur Utama PT Grafiti Pers (penerbit majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Dengan manajemen baru, Eric mengangkat Dahlan Iskan, yang sebelumnya adalah kepala biro Tempo di Surabaya untuk memimpin Jawa Pos. Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 eksemplar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.

Lima tahun kemudian terbentuklah Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997, Jawa Pos pindah ke gedung yang baru berlantai 21, Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya. Tahun 2002 dibangun Graha Pena di Jakarta. Dan, saati ini bermunculan gedung-gedung Graha Pena di hampir semua wilayah di Indonesia.

Tahun 2002, Jawa Pos Group membangun pabrik kertas koran yang kedua dengan kapasitas dua kali lebih besar dari pabrik yang pertama. Kini pabrik itu, PT Adiprima Sura Perinta, mampu memproduksi kertas koran 450 ton/hari. Lokasi pabrik ini di Kabupaten Gresik, hanya 45 menit bermobil dari Surabaya.

Setelah sukses mengembangkan media cetak di seluruh Indonesia, pada tahun 2002 Jawa Pos Grup mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam, Riau TV di Pekanbaru, Fajar TV di Makassar, Palembang TV di Palembang, Parijz van Java TV di Bandung, Radar Cirebon Televisi RCTV di Cirebon Kota Wali.

Memasuki tahun 2003, Jawa Pos Group merambah bisnis baru: Independent Power Plant. Proyek pertama adalah 1 x 25 MW di Kab. Gresik, yakni dekat pabrik kertas. Proyek yang kedua 2 x 25 MW, didirikan di Kaltim, bekerjasama dengan perusahaan daerah setempat.

Pada tahun 2008, Jawa Pos Group menambah stasiun televisi baru: Mahkamah Konstitusi Televisi (MKtv) yang berkantor di Gedung Mahkamah Konstitusi Jakarta.

Pada tahun 2009, Jawa Pos Group menambah data center baru: Fangbian Iskan Corporindo (FIC) yang berkantor di Gedung Graha Pena Surabaya. Kini, Jawa Pos hadir dengan stasiun televisi Jawa Pos TV dan acara utamanya Nusantara Kini yang di sebagian akhir acaranya mengundang Redaktur Harian Jawa Pos untuk memberikan informasi yang akan ditampilkan di Koran Jawa Pos

Penghargaan

2011. Pada Oktober 2011, Jawa Pos dikukuhkan sebagai koran anak muda dunia dengan predikat Newspaper of The Year oleh World Young Reader Prize 2011. Penghargaan ini diterima oleh Azrul Ananda, Pemimpin Redaksi Jawa Pos, di Wina pada 12 Oktober 2011.

Harian Suara Pembaruan

Harian Suara Pembaruan

Harian Suara Pembaruan – Suara Pembaruan adalah sebuah surat kabar Indonesia yang berbasis di Jakarta. Surat kabar ini terbit pada sore hari dengan slogan dan motto awal Tiada Pembaruan Tanpa Pembaruan dan kini Memihak Kebenaran.

Sejarah

Suara Pembaruan pertama kali terbit pada tanggal 27 April 1961 dengan nama Sinar Harapan yang dikelola oleh PT. Sinar Kasih. Pada tahun 1986, dunia surat kabar Indonesia terguncang, ketika harian umum ini dicabut izin terbitnya oleh pemerintah Orde Baru. Namun HG Rorimpandey selaku pemimpin umum , terus mencari cara untuk bisa kembali menerbitkan Sinar Harapan. Akhirnya pada tanggal 4 Februari 1987 setelah melalui negosiasi panjang dengan pihak pemerintah, pengelola diizinkan kembali menerbitkan koran dengan nama baru yaitu Suara Pembaruan dengan nama penerbit baru yakni PT. Media Interaksi Utama dan tentunya susunan personalia redaksi yang juga baru. Koran baru ini memiliki konsep yang tidak jauh berbeda dengan koran sebelumnya termasuk logo dan rubrikasinya.

Profil Pembaca :

Peredaran Suara Pembaruan meliputi sekitar 85% di Jabodetabek dan 15% di kota-kota lain di Indonesia. Banyak kalangan menilai Suara Pembaruan adalah koran sore terbesar di Indonesia. Menurut Nielsen Media Research, profil pembaca Suara Pembaruan adalah pria (67%), usia 30-39 tahun (51%), usia 20-29 tahun (38%), SES A1, A2 (40%), white collar (56%), blue collar (25%), pendidikan SLTA (58%) dan universitas (25%).

Tipe : Surat Kabar Harian
Pemilik : BeritaSatu Media Holdings
Penerbit : PT Media Interaksi Utama
Bahasa : Indonesia
Situs : www.suarapembaruan.com

1 2 3