MRT Gunakan Virtual Money

MRT Gunakan Virtual Money

mediaindonesia.web.id Salah satu fasilitas yang disediakan oleh pemkot DKI adalah dengan adanya MRT,kali ini MRT memfasilitaskan penumpangnya dengan Elektronik Money.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai MRT Gunakan Virtual Money. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai MRT Gunakan Virtual Money

“Kecepatan tap in pada passenger gate-nya hanya 0,2 detik. Jauh lebih cepat dibanding uang elektronik yang dikeluarkan perbankan yang sampai saat ini masih dalam level kecepatan 1,2-2 detik,” tutur Effendi.Penerbitan Jelajah MTT ini didukung oleh upaya penyempurnaan aspek teknis lainnya seperti fungsi card reader, ticket vending machine, dan layanan top up.Masyarakat pengguna MRT Jakarta dapat membeli Jelajah MTT di stasiun-stasiun terdekat dengan harga per kartu Rp 25.000.Untuk saat ini, masyarakat dapat melakukan tap in naik MRT Jakarta dengan menggunakan kartu perjalanan tunggal atau Single Trip Ticket (STT).

Selain itu, masyarakat dapat pula menggunakan uang elektronik berizin yang diterbitkan oleh perbankan yakni Bank Mandiri (e-money), BNI (Tap Cash, Jak Lingko), BRI (Brizzi), BCA (Flazz), Bank DKI (Jakcard).”Jelajah MTT ini terintegrasi dengan moda transportasi umum lainnya di wilayah DKI Jakarta,” imbuh Effendi.Dengan diterbitkannya Jelajah MTT, Effendi optimistis target meningkatkan angka ridership  hingga 100.000 orang per hari dapat tercapai. Hingga awal November 2019, jumlah penumpang yang menggunakan MRT Jakarta sebanyak 90.000 orang per hari.

Untuk meningkatkan pelayanan kepada para pelanggan, PT MRT Jakarta akan menerapkan sistem pembayaran digital melalui pemindaian (scan) QR Code pada gawai. Sistem pembayaran ini secara resmi akan diluncurkan pada 1 Desember 2019. Saat ini, perusahaan sedang menguji dan mematangkan aplikasi perangkat lunak pendukung yang ditargetkan rampung akhir November ini.Demikian Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi PT MRT Jakarta Tuhiyat mengungkapkan rencana perusahaan saat Fellowship Program MRT 2019, di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Baca Juga : Uang Elektronik Jadi META Indonesia

“Apps MRTJ nanti berbasis Android dan IoS, bisa diunduh pada masing-masing gawai penumpang melalui appstore,” kata Tuhiyat.Menurut dia, QR Code mampu mempercepat dan mempermudah proses transaksi sekaligus  menunjang sistem pembayaran cardless.Hanya saja, pemindaian yang dilakukan harus benar-benar presisi dan tepat supaya proses transaksi berjalan lancar.QR Code sendiri merupakan kode matriks atau barcode dua dimensi yang berasal dari kata “Quick Response”.

Selain melalui QR Code, PT MRT Jakarta juga menawarkan tiga pilihan sistem transaksi yang bisa dipilih penumpang sesuai kebutuhan dan preferensinya.Ketiga sistem pembayaran itu adalah Jelajah Multi Trip Ticket (MTT) yang dirilis 25 November, Jelajah Single Trip Ticket (STT), dan Uang Elektronik (Unik) dari Perbankan.Untuk Jelajah MTT, imbuh Tuhiyat, fungsinya serupa uang elektronik. Pelanggan bisa menyimpan uang di MTT. Oleh karena fungsinya sama dengan uang elektronik, PT MRT Jakarta memerlukan izin dari Bank Indonesia (BI) yang sudah diterbitkan pada 14 November 2019, dengan Nomor 21/447/DKSP/Srt/B.

Uang Elektronik Jadi META Indonesia

Uang Elektronik Jadi META Indonesia

mediaindonesia.web.id Uang elektronik menjadi makin Most Effective Tactic Available,Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Uang Elektronik Jadi META Indonesia. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Uang Elektronik Jadi META Indonesia

Saat ini popularitas pembayaran digital dengan uang elektronik semakin meningkat. Masyarakat pun memiliki keleluasaan untuk memilih brand sesuai kebutuhan mereka dalam melakukan transaksi digital ini.Berdasarkan hasil riset dari Snapcart, diketahui ada tiga jenis transaksi yang paling sering digunakan dengan menggunakan uang elektronik dalam dompet digital. Ketiganya, yakni transaksi retail (28 persen), pemesanan transportasi online (27 persen), dan pemesanan makanan online (20 persen).Sisanya, untuk transaksi e-commerce (15 persen) dan pembayaran tagihan (7 persen).

“Data ini menunjukkan bahwa uang elektronik untuk transaksi harian seperti transportasi, pengiriman makanan cepat saji, dan belanja telah semakin populer di kalangan konsumen Indonesia,” ujar peneliti Snapchart Indonesia Eko Wicaksono, dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/7/2019).Selain itu, hasil riset mengungkapkan, 58 persen responden menggunakan brand OVO sebagai aplikasi pembayaran digital favorit mereka. Dompet digital berbasis aplikasi lain seperti Go-Pay (23 persen), DANA (6 persen), dan LinkAja (1 persen) pun disebut sebagai alat pembayaran oleh responden.12 persen responden menyebutkan brand lain seperti Flazz, Brizzi and Mandiri e-money yang merupakan uang elektronik dari institusi keuangan.

Riset Snapcart ini dilakukan dengan metode survei online melalui aplikasi Snapcart di kota-kota besar Indonesia, dan dilakukan pada bulan Mei 2019 ini.Tak hanya transaksi retail dan jasa online saja, pengguna aplikasi pembayaran digital pun kerap melakukan transaksi berbagai rekening tagihan rutin, seperti listrik, air, asuransi, pajak, dan lain-lain.Dengan menggunakan uang elektronik, pembayaran berbagai tagihan menjadi lebih mudah, cepat dan aman. Fasilitas yang diusung oleh berbagai brand aplikasi pembayaran digital ini juga didominasi oleh OVO dan Go-Pay.

Data riset menunjukkan 67 persen responden menggunakan OVO untuk segmen transaksi ini, diikuti oleh Go-Pay (22 persen), DANA (10 persen) dan LinkAja (2 persen).Seiring perkembangan zaman dan teknologi, semakin banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.Salah satunya ialah tentang penggunaan uang elektronik sehingga masyarakat tidak perlu mengantongi uang kertas. Dompet sudah berubah jadi digital.Pemberlakuan dan penerapan uang elektronik ini sudah sah setelah Bank Indonesia (BI) mengeluarkan peraturan yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonsia Nomor 20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik.

Data terbaru, BI memastikan kelancaran sistem pembayaran tetap terpelihara, baik dari sisi tunai maupun nontunai, pada Februari 2019.Khusus untuk pembayaran nontunai, BI mengungkapan ada peningkatan tajam. Bahkan, penggunaan uang elektronik mengalami pertumbuhan mencapai 66,6 persen.Supaya Anda tak salah dan bingung, uang elektronik dibagi menjadi dua jenis. Pertama, uang elektronik berbasis cip. Uang elektronik jenis ini umumnya berbentuk kartu, seperti e-Money, Flazz, dan Brizzi. Jenis kedua, uang elektronik berbasis server. Uang elektronik jenis ini biasanya berbentuk aplikasi, seperti Go-Pay, OVO, dan LinkAja.Sejak berkembang dan berlaku beberapa waktu lalu, kini sudah ada 37 uang elektronik dari dua jenis ini yang beredar di Indonesia. Selain itu, ada juga uang elektronik yang syariah dan bukan. Jadi, jangan salah pilih.

Baca Juga : Tilang Elektronik Dan Keseramannya

Berikut ini daftar uang elektronik yang sudah terdaftar di Bank Indonesia:

1. PT Artajasa Pembayaran Elektronis (MYNT E-Money)
2. PT Bank Central Asia Tbk (Sakuku dan Flazz)
3. PT Bank CIMB Niaga (Rekening Ponsel)
4. PT Bank DKI (Jakarta One/JakOne dan JakCard)
5. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Mandiri e-Cash dan Mandiri e-Money)
6. PT Bank Mega Tbk (Mega Virtual dan Mega Cash)
7. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (UnikQu dan TapCash)
8. PT Bank Nationalnobu (Nobu e-Money)
9. PT Bank Permata (BBM Money)
10. PT Bank Rakyat Indonesia (T bank dan Brizzi)
11. PT Finnet Indonesia (FinnChannel)
12. PT Indosat Tbk (PayPro/Dompetku)
13. PT Nusa Satu Inti Artha (DokuPay)
14. PT Skye Sab Indonesia (Skye Mobile Money dan SkyeCard)
15. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Flexy Cash dan iVas Card)
16. PT Telekomunikasi Seluler (T-Cash dan Tap Izy)
17. PT XL Axiata Tbk (XL Tunai)
18. PT Smartfren Telecom Tbk (Uangku)
19. PT Dompet Anak Bangsa (Go-Pay)
20. PT Witami Tunai Mandiri (TrueMoney)
21. PT Espay Debit Indonesia Koe (Dana)
22. PT Bank QNB Indonesia Tbk (Dooet)
23. PT BPD Sumsel Babel (BSB Cash)
24. PT Buana Media Teknologi (Gudang Voucher)
25. PT Bimasakti Multi Sinergi (Speed Cash)
26. PT Visionet Internasional (OVO Cash)
27. PT Inti Dunia Sukses (iSaku)
28. PT Veritra Sentosa Internasional (Paytren)
29. PT Solusi Pasti Indonesia (KasPro)
30. PT Bluepay Digital Internasional (Bluepay)
31. PT Ezeelink Indonesia (Ezeelink)
32. PT E2Pay Global Utama (M-Bayar)
33. PT Cakra Ultima Sejahtera (DUWIT)
34. PT Airpay International Indonesia (SOPEEPAY)
35. PT Bank Sinarmas (Simas E-Money)
36. PT Transaksi Artha Gemilang (OttoCash)
37. PT Fintek Karya Nusantara (LinkAja)

Tilang Elektronik Dan Keseramannya

Tilang Elektronik Dan Keseramannya

mediaindonesia.web.id Kamu yang suka melawan peratruan atau melanggar peraturan,kini tidak perlu takut tidak akan ditilang.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Tilang Elektronik Dan Keseramannya. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Tilang Elektronik Dan Keseramannya

Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya telah memberlakukan sistem tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement ( ETLE) di berbagai ruas jalan DKI Jakarta. Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Fahri Siregar menyatakan, selain mampu menangkap pelanggaran lalu lintas, kamera ETLE juga mempunyai fungsi lain, yaitu bisa membantu mencari pelaku kriminal. “Di samping pelanggaran lalu lintas, kamera ini bisa juga dimanfaatkan untuk mencari dan mengungkap identitas tindak kejahatan yang dapat memicu tindak pidana. Jadi ketika mereka melakukan aksinya menggunakan kendaraan, terekam kamera ETLE, kita tinggal langsung sesuaikan dengan database,” katanya NTMC Polda, Kamis (13/2/2020).

“Jadi cukup memudahkan petugas dalam menciptakan kondisi aman dan nyaman di jalan,” ujar Fahri. Ia juga mengingatkan bagi para pengguna jalan agar selalu berhati-hati dan tertib berlalu lintas. Sebab, melalui tilang elektronik, pelanggar tidak bisa mencari alasan atau pembenaran lagi. “Pelanggar akan kita berikan surat konfirmasi dan tilang ke alamat yang sesuai dengan identifikasi dan registrasi (regident) yang tercantum di STNK masing-masing. Dalam surat itu, ada gambar saat pengemudi melakukan pelanggaran, jadi tidak bisa beralasan,” katanya.

ETLE yang terpasang di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin dan jalur transjakarta koridor 6. Supaya memperluas pemanfaatannya, pihak Polda Metro Jaya berencana untuk menambah 45 unit kamera lagi. “Mulai dari Kota Tua sampai dengan Harmoni, kemudian Medan Merdeka Barat, Thamrin, Sudirman, dan Blok M. Kemudian dari Grogol dan Gatot Subroto sampai ke Halim. Selanjutnya, Rasuna Said, Kuningan, dari mulai Cawang hingga Cempaka Putih,” kata Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya Kombes Yusuf. Selain itu, kamera ETLE juga akan dipasang di jalan tol dalam kota dan busway yang bekerja sama dengan PT Jasa Marga (Persero) dan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).Guna membuat jera para pelanggar lalu lintas, Ditlantas Polda Metro Jaya telah mengembangkan sistem tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement ( ETLE) dengan menggunakan kamera pengawas, alias CCTV. Kamera ini pun sudah mulai terpasang dan beroperasi sejak tahun lalu. Bahkan setelah menyasar pengguna mobil, mulai Februari 2020, ETLE juga sudah dikembangkan untuk menangkap pelanggaran yang dilakukan sepeda motor. Lantas bagaimana kamera tilang elektronik ini bekerja? Dijelaskan sebelumnya oleh Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Fahri Siregar, ETLE memiliki fungsi utama untuk membantu polisi dalam penegakkan hukum dalam aturan berlalu lintas.

“Kamera yang terpasang akan dipantau oleh petugas TMC Polda Metro Jaya di ruang terpisah. Kamera tersebut mampu menangkap gambar lalu akan dikaji oleh petugas mengenai jenis pelanggarannya, nomor polisi kendaraan akan terekam dan disesuaikan dulu dengan databese yang sudah ada,” ujar Fahri beberapa waktu lalu. Setelah dikonfirmasi jenis pelanggarannya, petugas akan meng-capture gambar pelanggaran untuk selanjutnya dijadikan bukti otentik. Petugas akan mengirimkan data pelanggaran bersama biaya denda pelanggaran langsung ke alamat pelanggar. Untuk jenis kamera yang terpasang atau yang dimiliki oleh Ditlantas Polda Metro Jaya, memiliki spesifikasi berbed-beda. Pertama dilengkappi dengan fitur Automatic Number Plat Recognition (ANPR) yang mampu mendeteksi jenis pelanggaran marka dan lampu lalu lintas.

Kedua, kamera check point yang dapat mendeteksi jenis pelanggaran ganjil genap, tidak menggunakan sabuk keselamatan, dan penggunaan ponsel oleh pengemudi mobil. Lantas yang ketiga adalah kamera speed radar. Kamera ini dikoneksikan dengan kamera check point untuk mendeteksi kecepatan kendaraan yang melintas. Kamera tilang ETLE mampu menjangkau semua kendaran yang berada dalam radius 20-30 meter dari titip penempatan kamera. Pemindaian pengendar juga bisa dilakukan dengna cepat dalam hitungan detik.

Pada waktu tertentu seperti malam hari, kamera akan mengeluarkan sekelebat cahaya secara cepat. Hal itu menandakan bahwa kamera sedang berkerja menangkap gambar dan rekaman gerak dari pengendara. Saat data kendaraan sesuai dengan data seperti jenis kendaraannya, warna kendaraannya, serta nomor polisinya, maka bisa dipastikan data tersebut valid dan diterbitkannya surat konfirmasi kepada pelanggar.

Tilang elektronik alias electronic traffic law enforcement ( ETLE), menjadi solusi untuk menekan angka pelanggaran lalu lintas yang kerap dilakukan oleh pengendara mobil maupun sepeda motor. Dengan pengawasan kamera cangih yang bisa mengenali jenis-jenis pelanggaran, diharapkan masyarakat pengguna kendaraan bisa lebih tertib dalam berlalu lintas. Perlu untuk diketahui, sistem tilang ETLE ini berbeda dengan versi konvensional. Lantaran semuanya beroperasi melakui komputer, maka tida akan ada petugas kepolisian di lapangan yang akan melakukan penindakan

Baca Juga : JCC Jadi Ajang Pamer Produk Elektronik

Pelanggaran lalu lintas yang terekam kamera akan diproses melalui sistem data TMC Polda Metro Jaya. Akan ada petugas yang melakukan pengecekan identitas kendaraan dari database registrasi kendaraan bermotor. Usai semuanya dicocokan, petugas tersebut akan membuat surat konfirmasi dan verifikasi yang dikirimkan ke alam rumar pelanggar lengkap bersama foto bukti pelanggaran. Waktu pengiriman diestimasikan berlangsung selama tiga hari setelah pelanggaran.

Konfirmasi yang dimaksud, adalah memberikan ruang atau hak jawab bagi pemilik kendaraan mengenai pelanggaran yang dilakukan atas nama kendaraan yang digunakan. Sebagai contoh, apakah benar kendaraan tersebut dibawa pemilik pribadi atau orang lain yang melanggar. Masa konfirmasi yang diberikan polisi berlaku selama lima hari. Pengendara bisa memberikan jawaban langsung melalui laman resmi etle.pmj.info, aplikasi ETLE-PMJ yang ada di Android Store, atau melalui pokso ETLE Subdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya.

Bila dalam masa waktu lima hari berakhir tanpa ada tanggapan dari pemilik kendaraan, maka polisi akan memblokir Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Petugas juga akan mengirim surat tilang berwarna biru sebagai bukti pelanggaran dan koda pembayaran virtual untuk denda.Untuk mengurus denda tersebut, pelanggar bisa langsung membayar ke bank yang ditunjuk, kemudian melanjutkan dengan menyerahkan bukti pembayaran ke polisi. Proses ini pun tak memerlukan sidang, tapi bila ada pelanggar yang merasa tidak bersalah dan memilih ikut sidang, akan diberikan waktu selama tujuh hari.

Sepekan diterapkannya tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement ( ETLE), polisi berhasil merekam 1.201 pengguna sepeda motor yang melanggar aturan lalu lintas.Menurut Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Fahri Siregar, dari semua pelanggaran yang masuk dalam katerogir ETLE, palin mendominasi pengguna motor yang menerobos masuk ke jalur Transjakarta.”Jenis pelanggaran yang paling banyak terjadi yaitu pelanggaran sepeda motor melintas jalur Transjakarta, jumlahnya mencapai 625 pelanggaran,” ujar Fahri, dari NTMCPolri, Selasa (11/2/2020).

Untuk lokasi pelanggaran terbanyak, masih sama dengn sebelumnya, yakni berada di busway Koridor 6 (Rute Ragunan-Dukuh Atas 2), Jakarta Selatan.Dok Ditlantas Polda Metro Jaya via ANTARA Petugas Ditlantas Polda Metro Jaya mencatat 167 pengemudi sepeda motor terekam kamera tilang elektronik (Electronic Traffic Law Enforcement/ETLE) pada hari pertama, Jumat (1/2).Berdasarkan pantauan kameran ETLE, menurut Fahri jumlah pelanggaran di kawasan tersebut mencapai 383 pengguna motor. Jenisnya terdiri dari 368 melintas jaur Transjakarta, dan sisanya berkendara tanpa mengenakan helm.

Seperti diketahui, tilang elektornik motor telah dilakukan mulai 1 Februari 2020 lalu. Sedangkan untuk implementasi penuh atau penegakkan hukumnya diterapkan pada 3 Februari 2020.Kamera pengawas atau closed circuit television (CCTV) terpasang di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (23/1/2020). Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya akan menerapkan tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE) untuk pengendara sepeda motor di sepanjang Jalan Sudirman – MH Thamrin dan jalur koridor 6 Trans-Jakarta Ragunan-Dukuh Atas mulai awal Februari 2020.terpasang Saat ini ada 12 kamera ETLE yang dipasang untuk sistem tilang elektronik motor. Kamera tersebut terpasang di sepanjang Jalan Sudirman – Thamrin serta jalur Transjakarta koridor 6.

JCC Jadi Ajang Pamer Produk Elektronik

JCC Jadi Ajang Pamer Produk Elektronik

mediaindonesia.web.id Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai JCC Jadi Ajang Pamer Produk Elektronik. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai JCC Jadi Ajang Pamer Produk Elektronik

International Consumer Electronics Expo Indonesia 2019 resmi dibuka hari ini. Acara ini sendiri berlangsung di Hall A dan Hall B Jakarta Convention Center (JCC) Senayan pada 17 hingga 19 Desember 2019.Lebih dari 200 peserta pameran lokal dan internasional berpartisipasi dengan membawa lebih dari 300 brand dari para produsen dan diharapkan lebih dari 15.000 pengunjung akan menghadiri ajang pameran ini.Founder of Kreen Indonesia Sutardi selaku pelaksana ICEE Indonesia 2019 mengatakan 95% dari peserta pameran adalah produsen dan sisanya adalah pedagang atau dealer besar.

“Peserta pameran kami tidak hanya produsen produk tetapi juga pengembang. Lebih dari 60% peserta pameran kami menunjukkan bahwa mereka berinvestasi dalam R&D setiap tahun,” jelas Sutardi.Melihat perkembangan teknologi digital yang berjalan cepat seiring dengan trend gaya hidup di era digital saat ini, ICEE Indonesia hadir pada waktu yang tepat dan berfungsi sebagai platform perdagangan untuk pembeli dari Indonesia dan negara-negara tetangga.Ini adalah platform sumber bagi pembeli untuk bertemu pemasok global produk-produk berkualitas tinggi dan menciptakan peluang dan pengembangan bisnis yang baik khususnya di segmen Consumer Electronics.Ratusan perusahaan barang elektronik bakal kumpul bareng dalam gelaran International Consumer Electronics Expo (ICEE) Indonesia. Setidaknya ada 175 perusahaan berasal dari China, Hong Kong, dan Indonesia.Berbagai macam produk elektronik pilihan mulai dari drone, virtual reality (VR), komputer, aksesoris, kamera, bluetooth speaker, smartwatch, vapes, LED Light dan lainnya akan dijajakan dalam pameran ini. Pameran ini sendiri dilaksanakan di Jakarta Convention Centre (JCC), acara digelar mulai tanggal 17 hingga 19 Desember 2019 mendatang.

Baca Juga : Hanung Perkenalkan Istilah Manwantara

Anggota Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Kevin Wu berharap melalui acara ini diharapkan terjadi hubungan bisnis antara perusahaan lokal dan internasional. Selain itu masyarakat pun dapat melihat langsung kecanggihan teknologi elektronik terkini.”Melalui ICEE Indonesia 2019 selain diharapkan akan terjadi B to B (bussines to bussines) antara peserta lokal dan internasional. Masyarakat umum juga akan dapat melihat langsung kecanggihan teknologi di segmen Consumer Electronics yang terkini,” ungkap Kevin Wu dalam keterangan resmi, Minggu (8/12/2019).Semua produk-produk dan teknologi terkini yang berhubungan langsung dengan Consumer Electronics akan dihadirkan pada ICEE Indonesia 2019.

Lebih dari 200 exhibitor akan berpartisipasi dan berbagi trend dan teknologi khususnya di segmen Consumer Electronics.”Tujuan digelarnya ICEE adalah untuk memperluas jaringan para pengusaha dalam menjalin kerja sama bisnis, pameran ini diyakini akan menjadi platform yang baik bagi perusahaan produsen dan buyer dalam mengembangkan usahanya seiring menuju industri 4.0,” kata Sutardi.Selama tiga hari penyelenggaraan, ICEE 2019 juga akan menghadirkan area untuk menjajal perangkat-perangkat elektronik unik. Mulai dari virtual reality, hingga test drive balance scooter wheel.Untuk mendukung ekonomi kreativitas lokal, gelaran ini juga melibatkan komunitas start up. ICEE 2019 akan mengadakan kompetisi bagi start up, dimana juaranya akan memenangkan perjalanan ke Shenzhen (Cina).