Special Screening NKCTHI Tiketnya Habis Satu Menit

Special Screening NKCTHI Tiketnya Habis Satu Menit

mediaindonesia.web.id Film NKCTHI yang baru rilis beberapa hari kemarin Tiket Special screeningnya langsung habis dalam hitungan menit. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Special Screening NKCTHI Tiketnya Habis Satu MenitBerikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Special Screening NKCTHI Tiketnya Habis Menit

Setelah kota Malang, Surabaya, Solo, Yogya dan Semarang yang memberikan antusiasme tinggi terhadap pemutaran perdana film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Kini gilran penonton Jakarta yang ramai-ramai memberikan antusiasnya.Tak mau kalah dengan kota-kota lainnya, hanya dalam hitungan menit, antrian tiket special screening yang dibuka khusus pada Rabu, 25 Desember 2019 di XXI Epicentrum kuningan langsung ludes terjual. Bahkan mereka rela antri dari dua jam sebelum loket dibuka.Pemutaran special screening film Nanti Kta Cerita Tentang Hari Ini turut di hadiri oleh para pemain dan crew seperti Oka Antara, Niken Anjani, Sinyo, Alleyra, Nayla dan produser Anggia Kharisma.Kehadiran pemain dan crew film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini memang dikhususkan dan menjadi surprise untuk memberikan apresiasi terhadap antusiasme masyarakat pecinta film NKCTHI di Jakarta.

Antusias
“Aku happy banget melihat antusias penonton hari ini. Hari ini juga pertama kalinya buka buat umum di Jakarta dan luar biasa antriannya. Hari libur ternyata antusiasme luar biasa dan aku senang banget pas masuk semua kaya kebayar, kaya your heart is full begitu tau banyak yang ngerasa related sama ceritanya. Karena memang cerita ini dibikin sebegitu personal dan se-emosional itu,” ujar Anggia selaku produser dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini dalam keterangannya kepada wartawan, baru-baru ini.

Baca Juga : Ejen Ali Film Malaysia Raup Banyak Di Indo

Versi Asli
Film ini diangkat dari buku karya Marchella FP yang versi aslinya berisi pesan-pesan pendek. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan yang mencerminkan pengalaman pribadi seseorang yang sederhana, namun unik dan memikat. Pesan dalam buku itu diracik hingga menjadi sebuah cerita utuh mengenai kisah sebuah keluarga yang menyimpan sebuah rahasia.

Tayang
Film ini akan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 2 Januari 2020. Film produksi ke-13 dari Visinema Pictures ini dibintangi oleh Rachel Amanda, Rio Dewanto, Sheila Dara, Donny Damara, Susan Bachtiar, Chicco Jerikho, Oka Antara, Niken Anjani, Agla Artalidia, Umay Shahab, Muhammad Adhiyat, Sinyo, Nayla Denny Purnama, Alleyra Fakhira Kurniawan, dan Syaqila Afiffah Putri serta musisi Ardhito Pramono.

Sinopsis
Setiap keluarga punya rahasia. Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara) dan Awan (Rachel Amanda) adalah kakak beradik yang hidup dalam keluarga yang tampak bahagia. Setelah mengalami kegagalan besar pertamanya, Awan berkenalan dengan Kale, seorang cowok eksentrik yang memberikan Awan pengalaman hidup baru, tentang patah, bangun, jatuh, tumbuh, hilang dan semua ketakutan manusia pada umumnya. Perubahan sikap Awan mendapat tekanan dari orang tuanya. Hal tersebut mendorong pemberontakan ketiga kakak beradik ini yang menyebabkan terungkapnya rahasia dan trauma (luka) besar dalam keluarga mereka.

Ejen Ali Film Malaysia Raup Banyak Di Indo

Ejen Ali Film Malaysia Raup Banyak Di Indo

mediaindonesia.web.id Salah satu film Malaysia berjudul Ejen Ali meraup cukup banyak uang dari negara Nusantara. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Ejen Ali Film Malaysia Raup Banyak Di Indo. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Ejen Ali Film Malaysia Raup Banyak Di Indo

Di sela euforia Habibie dan Ainun 3, Imperfect, dan Si Manis Jembatan Ancol, muncul film impor dari Malaysia, Ejen Ali: The Movie. Ejen Ali: The Movie merupakan fenomena menarik di Negeri Jiran.Diproduksi dengan biaya 6,5 juta ringgit Malaysia, Ejen Ali: The Movie beroleh pendapatan kotor 25 juta ringgit Malaysia atau sekitar 82,5 miliar rupiah.Cukup tinggi untuk ukuran film animasi. Berkaca pada pendapaian di Malaysia dan negara Asia Tenggara lain, Ejen Ali: The Movie kini bersiap menyapa jaringan bioskop Indonesia.

Jadwal di Indonesia
Film animasi rilisan Wau Animation dan Primeworks Studios ini dijadwalkan tayang di Indonesia pada 1 Januari 2020.Chief Executive Officer Primeworks Studios, Datuk Ahmad Izham Omar, menjelaskan, “Ejen Ali: The Movie juga disambut hangat para pencinta film di Brunei Darussalam dan Singapura.”

Proses Kreatif yang Panjang
Ejen Ali: The Movie menceritakan Ali, anak berusia 12 tahun yang direkrut sebagai mata-mata dan memiliki peran di lembaga rahasia Meta Advance Tactical Agency atau MATA. Dalam prosesnya, Ali ditugasi melindungi kota Cyberaya.“Film animasi ini menawarkan kualitas gambar yang tak kalah dengan animasi buatan Hollywood. Kualitas ini dicapai setelah melewati proses kreatif selama satu tahun delapan bulan. Diharapkan hasilnya memuaskan para pencinta film,” terang Datuk Ahmad kepada di Jakarta Pusat, belum lama ini.

Baca Juga : Kisah Indigo Di Film Rasuk 2

Rahasia Sukses
Rahasia sukses film ini terletak pada naskah yang mudah diikuti oleh audiens lintas usia. Proses produksinya melibatkan 80 animator dan desainer grafis. Para seniman yang direkrut rata-rata berusia 25-28 tahun.

Jalan Panjang
Di Malaysia, Ejen Ali: The Movie dirilis 28 November 2019. Untuk sampai di fase perilisan, Ejen Ali: The Movie melewati jalan panjang. Teaser pertama film ini diperkenalkan kepada publik setahun sebelumnya, yakni 7 Agustus 2018.Teaser kedua menyapa pada 29 Maret 2018. Barulah trailer resmi pertama Ejen Ali: The Movie mengudara pada Agustus 2019. Dua bulan berselang, trailer kedua diluncurkan.“Sambutan penonton terhadap film ini membuat kami percaya bahwa industri animasi di Asia terus bergerak maju,” imbuh Datuk Ahmad.

Kisah Indigo Di Film Rasuk 2

Kisah Indigo Di Film Rasuk 2

mediaindonesia.web.id Setelah Danur 3 Risa saraswati kembali mendapatkan paranormal experience atau kisah indigo yang ditemukan di film Rasuk 2. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Kisah Indigo Di Film Rasuk 2. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Kisah Indigo Di Film Rasuk 2

Selain sukses lewat waralaba Danur yang melahirkan Danur Cinematic Universe, Risa Saraswati juga menulis buku Rasuk. Rasuk telah diangkat ke layar lebar oleh produser Dheeraj Kalwani. Rasuk yang dibintangi Shandy Aulia dirilis tahun lalu dan sukses menyerap 900 ribu penonton lebih. Kini, Risa Saraswati kembali lewat film Rasuk 2.Rasuk 2 memasang pemain baru karena memang memiliki kisah baru. “Yang sudah baca novel Rasuk pasti paham ada Isabella yang sudah saya ceritakan sedikit. Isabella itu adik dari Inggrid, sahabat Langgir di film Rasuk sebelumnya,” ujar Risa Saraswati dalam keterangannya kepada wartawan, baru-baru ini.Risa Saraswati mengatakan Rasuk 2 jauh lebih seru. Ceritanya baru namun tetap mengikuti garis besar cerita Rasuk. “Saya kalau tidak nonton Rasuk yang pertama ya enggak masalah, karena kisahnya baru dan mudah diikuti,” ujarnya.

Cerita Baru
Rasuk 2 dibintangi Nikita Willy yang berperan sebagai Isabella. Filmnya menceritakan Isabella yang awalnya merasa terganggu dengan kemampuan indigonya. Apalagi sebagai calon dokter, Isabella diharuskan koas (ko-asisten) dalam proses autopsi.

Baca Juga : Gimana Si Manis Jembatan Ancol Remake

Dimensi Lain
“Film ini membawa saya ke dua dimensi. Pertama dimensi sebagai manusia biasa, dokter koas yang harus belajar melakukan autopsi jenazah. Kedua dimensi dunia lain, karena sosok Bella ini punya indra keenam,” ujar Nikita Willy.

Belajar
Sesuai dengan ceritanya, Nikita Willy harus memberanikan diri dengan proses autopsi. “Saya belajar dulu bagaimana dokter melakukan autopsi. Kebetulan teman dokter saya banyak. Selama syuting juga sangat kooperatif suasananya,” imbuhnya.

Tayang
Film Rasuk 2 yang diproduksi Dee Company dan Blue Water film ini siap tayang 2 Januari 2020.

Gimana Si Manis Jembatan Ancol Remake

Gimana Si Manis Jembatan Ancol Remake

mediaindonesia.web.id Remake dari salah satu film sempat booming di masanya,Si Manis Jembatan Ancol. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Gimana Si Manis Jembatan Ancol Remake. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Gimana Si Manis Jembatan Ancol Remake

Si Manis Jembatan Ancol yang legendaris itu kembali ke layar lebar. Karya Anggie Umbara ini mencoba mengembalikan citra Si Manis Jembatan Ancol ke trek semula, yakni rilisan tahun 1973 yang dibintangi Lenny Marlina.Masalahnya, tak banyak yang ingat Si Manis Jembatan Ancol versi klasik yang menempatkan Mariah (bukan Maryam) sebagai hantu berkebaya merah. Yang diingat publik, Si Manis Jembatan Ancol versi Diah Permatasari dan Kiki Fatmala.Harus diakui, versi Diah Permatasari dan Kiki Fatmala menghentak layar kaca. Keduanya lekat dengan citra seksi dengan rambut tergerai plus gaun terusan pendek warna putih polos. Sedangkan kisah Si Manis Jembatan Ancol versi 2019 bermula di Jakarta, era 1973.

Konspirasi Jahat Dimulai
Maryam (Indah) ditinggal mati ayahnya. Sang ayah mewariskan sebidang tanah. Maryam dinikahi Roy (Arifin), pengusaha yang rela melakukan apa saja untuk memuluskan proyeknya. Di atas tanah warisan itu, Roy membangun rumah. Apes, bisnis Roy terganjal audit. Perputaran uang tersendat. Roy lantas pinjam uang ke Oji (Ozy).Gagal mengembalikan uang tepat waktu, Roy dan Maryam diteror Oji. Dimulai dengan Kleo, kucing kesayangan Maryam, dipenggal. Belakangan, Oji mengincar Maryam untuk dijadikan aset. Suatu hari, Maryam mengenal pelukis bernama Yudha (Randy). Perkenalan mereka bermula saat Yudha yang buntu ide membuntuti Maryam.Ia hendak melukis Maryam lalu menggelar pameran. Maryam bersedia. Syaratnya, Yudha membuatkan pula lukisan Maryam bersama Kleo dan ayah. Diam-diam Yudha jatuh cinta. Maryam berkukuh menjaga rumah tangganya. Suatu malam, Maryam dan Yudha diculik anak buah Oji. Sebuah konspirasi jahat dimulai.

Menuliskan Kembali Kisah Maryam
Selain cara berbusana yang khas, citra Si Manis di benak kita adalah hantu yang telah selesai dengan urusannya sendiri. Dulu, ia penuh dendam dan amarah. Setelah usai menuntut balas, Si Manis menjadi pahlawan bagi mereka yang terbunuh dan semasa hidupnya jadi korban kejahatan. Tak salah jika Si Manis dicitrakan demikian.Anggy Umbara menyodorkan “fakta” lain yang selama ini terlupakan. Berpijak pada cetak biru Si Manis Jembatan Ancol versi Turino Djunaedy di era Generasi Bunga, ia menuliskan kembali kisah Si Manis dari sudut pandangnya. Maryam perempuan santun baik lisan maupun cara berpakaian. Ia istri yang peduli, berhati lembut, tapi tak bahagia.

Awalnya Hati Sekuat Baja
Di balik sikap nrima-nya itu, hati Maryam sekuat baja dan sangat memperhatikan posisi perempuan. Ini tergambar jelas dari beberapa dialognya, seperti, “Atau karena saya perempuan? Jadi bisa diabaikan dan diambil hak-haknya secara paksa?” Di kesempatan lain, ia berujar, “Jadi perempuan itu harus kuat karena dunia ini jahat terhadap perempuan.”Lebih jauh, ia merasa perempuan makin disegani setelah jadi hantu. Karakter Maryam dibentuk oleh keadaan yang nyaris tak pernah berpihak padanya. Indah Permatasari menerjemahkan sosok Maryam lewat ekspresi wajahnya yang lembut.Beberapa kali ia tampak menahan diri, seolah ada sesuatu yang ingin dilepaskan, tapi belum saatnya. Alasannya bisa jadi masih sabar, menanti momen yang pas, atau melihat sampai sejauh mana penjahat menindas.

Baca Juga : Belajar Dari Film NKCTHI.

Gaya Baru Ozy
Kejutan lain datang dari penampilan Ozy Syahputra. Terbiasa melihatnya menjadi Karina yang kemayu di serial Si Manis Jembatan Ancol, Ozy kini tampil beda. Suaranya berat. Jenggot, kumis, dan bekas luka di wajah memudarkan citra centil yang menempel selama belasan tahun.Problem film ini, menurut kami, ada di penceritaan dan beberapa adegan yang gagal membentuk unsur seram. Khususnya di bagian mimpi di dalam mimpi yang berulang hingga tiga kali. Ini masih ditambah mimpi di dalam mimpi yang dialami tokoh lain. Bukannya bikin syok, malah ditertawakan penonton.Ini kami rasakan saat menonton di salah satu bioskop di luar Jakarta. Kondisi ini sebetulnya bisa dihindari jika lapisan mimpinya tak terlalu banyak.

Kiprah Pemeran Pendukung
Hal lain yang terasa mengganggu, efek visual yang kurang rapi. Khususnya permainan selendang di jembatan. Bisa diakali dengan selendang manual atau dibuat visual lain, toh ini bukan adegan puncak.Si Manis Jembatan Ancol di tangan Anggy menjadi kisah yang tampak baru dan beda. Lima puluh menit pertama film ini upaya membangun alasan untuk menopang seluruh keputusan tokoh utama di paruh kedua. Babak pertama yang minim kejutan terselamatkan oleh kiprah tokoh pendukung seperti Ucup (Anyun), Sri (TJ), dan Bang Kribo (Arief). Tak sekadar melumerkan suasana, mereka menjadi penghubung ke sejumlah adegan penting.Nuansa era 1970-an pun tergambar dengan meyakinkan. Si Manis Jembatan Ancol masih kerepotan menjaga tensi ketegangan. Sejumlah adegan terasa konyol dan memudarkan kesan film sebagai horor tulen. Ia akhirnya menjadi horor komedi slasher berbasis cerita rakyat. Jika ini tujuan yang dimaksud, maka Si Manis Jembatan Ancol berhasil.

Kangen Si Manis
Sayang, menjelang akhir ada adegan yang menurut kami blunder alias mengkhianati prinsip yang selama ini dipegang oleh sang tokoh utama soal wanita harus kuat karena dunia begitu kejam. Si Manis Jembatan Ancol ditutup dengan nuansa kelam. Kalau yang ini soal selera dan sudut pandang, sih.Pada hari pertama penayangan, film ini menyerap 101 ribu penonton. Antusiasme penonton di hari pertama tak serta merta mencerminkan hasil akhir film saat turun layar. Antusiasme ini harus dijaga pada pekan kedua dan ketiga.Bisa jadi, publik kangen dengan Si Manis yang kali terakhir difilmkan pada 1994. Kala itu Diah Permatasari dan Dicky Wahyudi jadi pemeran utama. Usai menonton, belum tentu generasi 1990-an dan remaja masa kini menerima gaya baru Si Manis. Jika word of mouth bekerja optimal, mungkin saja Si Manis Jembatan Ancol tembus sejuta penonton.

Belajar Dari Film NKCTHI

Belajar Dari Film NKCTHI

mediaindonesia.web.id Salah satu film keluarga yang mempunyai nilai kehidupan adalah NKCTHI,banyak nilai nilai yang bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Belajar Dari Film NKCTHI. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Belajar Dari Film NKCTHI

Film berjudul ‘Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini’ atau disingkat “NKCTHI”, diadaptasi dari buku kumpulan kisah-kisah pendek karya Marchella FP dengan judul yang sama. Film yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko ini akan tayang di bioskop pada 2 Januari 2020 mendatang.”NKCTHI” menceritakan keluarga Narendra (Donny Damara), yang digambarkan sebagai keluarga yang bahagia, seperti pada umumnya. Ia dan sang istri, Ajeng (Susan Bachtiar), memiliki tiga anak yang sudah beranjak dewasa, yaitu Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara Aisha) dan Awan (Rachel Amanda).Angkasa sebagai si sulung, berkewajiban untuk menjaga adik-adik perempuannya. Aurora si anak tengah, adalah wanita yang mandiri, sementara si bungsu Awan merupakan anak yang berkeinginan keras, namun cenderung lebih dimanja oleh keluarga.

Layaknya keluarga, rumah mereka dibungkus dengan kehangatan dan kedekatan, namun tak jarang perlakuan masing-masing anggota keluarga menimbulkan konflik.Di balik semua perlakukan orang tua itu kepada tiga anaknya, Film NKCTHI rupanya terdapat sebuah rahasia besar yang harus ditutup rapat-rapat, untuk menjaga kebahagiaan keluarga.

Memaknai Kehilangan
Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam film ini adalah bagaimana para karakter dalam keluarga Narendra menerima dan menghadapi kehilangan dan luka masing-masing.Bagaimana Angkasa dihadapkan dengan situasi di usianya yang semakin matang, Aurora yang merasa tiada di tengah keluarganya, hingga Awan yang harus mengalami kegagalan terbesar pertamanya dan berhadapan dengan banyak hal baru di depannya.Tak terkecuali bagi Narendra dan Ajeng, yang harus berperan sebagai pasangan orang tua yang kuat dan ideal di mata anak-anaknya, tanpa ada satu masalah pun yang harus dibicarakan bersama.Kehadiran kutipan-kutipan pendek nan indah yang diambil dari buku “NKCTHI“, juga berhasil menggugah penonton untuk merasakan berada di posisi tiap karakter dalam film.

Berkaca sebagai manusia
Melihat bagaimana kelima karakter ini harus bergelut dengan masalah, emosi dirinya, dan orang-orang di sekelilingnya, agaknya membuat penonton mau tak mau berkaca pada diri sendiri.Penokohan yang begitu kuat dari seluruh aktor utama yang terlibat dalam film ini, menimbulkan kedekatan bagi penonton. Kita bisa langsung mengklaim bahwa, “aku mirip dengan tokoh ini,” hanya dari beberapa adegan awal film saja.Dengan melihat sekilas saja, penonton akan merasa tokoh yang sedang ia saksikan adalah dirinya sendiri ㅡ sebagai seorang manusia yang tengah menempuh fase kehidupan.

Baca Juga : Abracadabra Reza Jadi Pesulap

Bagi penonton dewasa, bisa melihat bagaimana posisi kita ketika masih menjadi anak, hingga sekarang ketika telah menjadi orang tua dengan anak-anak.Pun sebaliknya, bagi penonton remaja, emosi yang digambarkan ketiga anak Narendra seakan dapat mewakili perasaan, “aku pernah/sedang berada di fase itu”, hingga menyelami masalah apa yang kemungkinan dapat menghampiri orang tuanya, tanpa adegan yang dilebih-lebihkan.Maka, tak mengherankan bagi sutradara Angga Dwimas Sasongko mengatakan bahwa film “NKCTHI” merupakan film yang personal bagi pembuat film maupun penontonnya kelak.

Hangat dan dekat
Satu hal yang identik dari “NKCTHI” ialah pewarnaan (tone) dengan palet warna yang konsisten di tiap lini waktunya.Untuk masa sekarang, sang sutradara memilih untuk menggunakan warna hangat dengan dominasi warna cokelat, jingga, kuning, dan putih.Secara tidak sadar, teknik pewarnaan yang diusung Angga ini berdampak pada tampilan visual yang dekat kepada penonton ㅡ membuat penonton seakan “pulang” ke rumahnya sendiri.Namun, pada lini waktu masa lalu, penggunaan tone warna berubah ke warna yang lebih dingin, seperti biru, toska, abu-abu, dan hitam. Ini berdampak sebaliknya dengan pilihan tone sebelumnya, yakni menimbulkan kesan “jauh” dan keraguan.

Sementara dari segi pengambilan gambar, film “NKCTHI” cenderung mengambil gambar secara menyeluruh, yang memungkinkan penonton untuk melihat bagaimana tiap karakter berinteraksi satu sama lain secara luas.Alur cerita yang diceritakan menggunakan alur maju-mundur, yang alih-alih membingungkan, malah memperkuat esensi cerita secara menyeluruh.Didukung dengan kemampuan akting para pemain di masing-masing perannya, semakin membuat spektrum emosi yang beragam dan mengaduk-aduk perasaan dan kesabaran penonton.Secara keseluruhan, “NKCTHI” merupakan film drama keluarga yang mampu mengajak penonton untuk terjun langsung dan bercermin pada diri sendiri ㅡ mengingatkan diri untuk menjadi lebih “manusia”, dengan menerima dan menghadapi luka dengan cinta, atau mungkin dengan air mata.

Abracadabra Reza Jadi Pesulap

Abracadabra Reza Jadi Pesulap

mediaindonesia.web.id Kali ini kami akan memberikan beberapa ulasan yang berisikan artikel mengenai Abracadabra Reza Jadi Pesulap.Dibawah ini adalah beberapa artikel yang membahas dan berkaitan mengenai Abracadabra Reza Jadi Pesulap

Penikmat film Indonesia bakal disuguhkan film terbaru dengan konsep cerita yang segar dan berbeda. Film berjudul Abracadabra yang disutradarai oleh Faozan Rizal dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah tersebut mengangkat cerita tentang pesulap. Abracadabra berkisah tentang seorang laki-laki bernama Lukman ( Reza Rahadian). Lukman adalah seorang grandmaster yang sudah tidak lagi percaya pada keajaiban.

Saat akan melakukan atraksi sulap dalam sebuah pertunjukan, Lukman menyuguhkan trik dengan menggunakan kotak kayu milik ayahnya. Ia memanggil seseorang dari penonton untuk masuk ke dalamnya, lalu memakunya dan mengucapkan ‘Abracadabra!’. Tentu saja orang tersebut masih ada di dalamnya. Namun, yang tidak ia ketahui adalah kotak tersebut milik banyak penyihir besar dari masa lalu.

Baca Juga : Habibie Ainun Dan Imperfect Siap Luncur

Kerumitan mulai terjadi setelah seorang anak laki-laki yang masuk ke kotak kayu itu menghilang. Keanehan dan keajaiban pun muncul silih berganti karena kotak kayu tersebut. Dalam pelariannya menemukan kembali anak laki-laki yang hilang dari kotak kayu, Lukman berusaha memecahkan rahasia kotak kayu dan kembali percaya pada keajaiban Film Abracadabra menampilkan sederetan pemain ternama, antara lain Reza Rahadian, Salvita Decorte, Asmara Abigail, Lukman Sardi, Muhammad Adhiyat, dan Poppy Sovia. Ada pula Butet Kertaredjasa, Jajang C. Noer, Dewi Irawan, Ence Bagus, Imam Darto, dan Kill The DJ yang juga mengisi lagu tema film ini. Trailer film Abracadabra sudah resmi dirilis dan dapat disaksikan di akun YouTube Fourcolours Films. Film Abracadabra akan tayang pada tanggal 9 Januari 2020 di bioskop seluruh Indonesia.

Habibie Ainun Dan Imperfect Siap Luncur

Habibie Ainun Dan Imperfect Siap Luncur

mediaindonesia.web.id Kali ini kami akan memberikan beberapa ulasan yang berisikan artikel mengenai Habibie Ainun Dan Imperfect Siap Luncur.Dibawah ini adalah beberapa artikel yang membahas dan berkaitan mengenai Habibie Ainun Dan Imperfect Siap Luncur

Dua film Indonesia yang akan rilis di bioskop-bioskop kesayangan Anda pada hariini, tepatnya Kamis (19/12/2019). Ada kelanjutan kisah cinta Habibie dalam Habibie dan Ainun 3 serta film terbaru Ernest Prakasa, yaitu Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan.

Kisah cinta Habibie dan Ainun yang diangkat ke layar kaca sudah memasuki sekuel ketiga. Film pertama menceritakan kisah cinta Habibie dan Ainun hingga Ainun dijemput ajal. Kemudian, film kedua lebih fokus pada kehidupan Habibie, pada film ketiga kali ini akan berfokus pada kehidupan Ainun, khususnya semasa kuliah. “Suatu hari, kita akan bertemu di dimensi yang berbeda,” kata Ainun kepada Habibie mengawali trailer Habibie & Ainun 3. “Aku rindu kamu,” jawab Habibie dengan bahasa Jerman. Ainun berkeinginan untuk meneruskan kuliah kedokteran. Hal yang sepertinya dianggap terlalu berat, khususnya untuk perempuan. Namun Ainun tetap memasuki jurusan kedokteran. Proses awal Masa Orientasi Mahasiswa (MOS) memperlihatkan Ainun sebagai sosok yang tidak akan diam melihat kesalahan. “Rasa sentimentil perempuan yang dibalut dengan indera perasa, yang lebih tajam dari laki-laki, membuat ilmu kedokteran tidak cocok untuk perempuan,” kata salah satu dosen Ainun. Dalam masa kuliah itu pula, Ainun bertemu dengan Habibie. Berkat pendirian dan rasa gigih dalam belajar, sedikit-banyak Ainun menjadi terkenal di kampus. “Bagaimana rasanya menjadi minoritas yang dikagumi?” Kata Habibie suatu ketika di kampus. “Sudah berapa banyak wanita yang Anda rayu seperti itu?” jawab Ainun sembari tersenyum penuh arti. Di akhir trailer, terlihat sosok Habibie yang menyatakan selalu mencintai Ainun. “Saya tidak pernah merasa dia meninggalkan saya, tapi dia selalu berada dalam hati saya.” Ainun diperankan oleh Maudy Ayunda dan Habibie diperankan oleh Jefri Nichol dan Reza Rahadian. Pemain lain yang bergabung di antaranya Aghniny Haque, Rebecca Klopper, Eric Febrian, Teuku Ryzki, Jennifer Coppen, Kevin Ardilova, Lukman Sardi, Marcella Zalianty, dan Angga Yunanda. Habibie & Ainun 3 berada dalam arahan sutradara Hanung Bramantyo dan penulis naskah Ifan Ismail

Baca Juga : Review Optimis Pesimus Film Gundala

Di sebuah lobi gedung, terlihat banyak perempuan memakai sepatu hak tinggi. Di antara sekian banyak perempuan itu, ada Rara yang memakai flat shoes dan membawa plastik berisi dua bungkus makanan. Dalam keadaan yang serba terburu-buru, beberapa orang sedang menuju lift. Perempuan bertubuh langsing hampir saja terlambat masuk lift, pintunya hampir tertutup. Untungnya ada seorang pria yang membantu menahan lift agar tidak tertutup. Pria dan perempuan itu saling melempar senyum. Rara juga hendak menuju lift, dia juga sama-sama hampir terlambat dan tergesa. Bedanya, dia menahan pintu lift agar tidak tertutup menggunakan kakinya, tidak ada yang membantu. Saat Rara masuk pun, beberapa orang melihat ke pojok dalam lift, seolah berpikir “apakah berat Rara tidak membuat lift over capacity?” Tubuh Rara memang lebih gemuk dibanding orang-orang lain yang ada di dalam lift. Film ini sedikit banyak bercerita tentang cara pandang orang terhadap fisik orang lain. Rara seseorang yang memiliki berat tubuh di atas rata-rata. Dia sering menjadi sasaran omongan orang akan bentuk tubuhnya. Tidak mungkin tidak, Rara juga merasa perlakuan orang lain itu cukup mengganggu. Sebenarnya pacar Rara tidak mempermasalahkan bentuk tubuh Rara. Tapi karena tidak tahan dengan omongan orang lain, Rara ingin mengubah tubunya seperti perempuan-perempuan langsing lain. Para pemain yang bergabung di antaranya Jessica Milla, Reza Rahardian, Yasmin Napper, Karina Suwandi, Kiki Narendra, Shareefa Daanish, Dion Wiyoko, Dewi Iraman, Ernest Prakasa, Clara Bernadeth, Karina Nadila, Devina Aureel, Kiky Saputri, Zsazsa Utari, Aci Resti, Neneng Wulandari, Uus, Diah Permatasari, Wanda Hamidah, Olga Lydia, Asri Welas, Sky Tierra Solana, M. Fairel, M. Yusuf Ozkan, Boy William, Tutie Kirana, Ratna Riantiarno, Hilyani Hidaranto, Cathy Sharon, dan Ucita Pohan.

Review Optimis Pesimus Film Gundala

Review Optimis Pesimus Film Gundala

mediaindonesia.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai Review Optimis Pesimus Film Gundala.Berikut ini kami akan memberikan pembahasan yang berkaitan dengan artikel yang membahas mengenai Review Optimis Pesimus Film Gundala

Untuk pertama kalinya, perfilman Indonesia dirasa siap melanjutkan jagat sinema superhero layaknya format MCU dan DC. Awalnya, penonton skeptis dengan bagaimana caranya film pahlawan super dikawinkan dengan sentuhan lokal. Eksekusinya, Joko Anwar bisa dibilang berhasil mengawali debut jagat Bumilangit dengan film origin Gundala yang patut diapresiasi. Sayangnya, belum semua penonton bisa menerima sajian film berlatar kondisi masyarakat yang kaos ini. Sebagian, justru sangat kecewa.

Setelah dipromosikan di berbagai stasiun televisi dan media sosial, film Gundala arahan sutradara Joko Anwar akhirnya tayang pada akhir Agustus 2019. Film ini digadang-gadang bakal jadi awal dari Bumilangit Cinematic Universe yang merupakan jagat terbesar perfilman superhero di Indonesia.Tinggalkan sejenak gegap gempita BCU yang kelihatannya bakal super serius dengan budgeting yang nggak minimalis ini. Lalu fokus pada Gundala dan kenapa penonton di Indonesia terbagi dua: antara yang skeptis dan optimis, antara mereka yang sebelum pulang tepuk tangan dan mereka yang sebelum pulang nggak paham. Selengkapnya di Hipwee Hiburan.

Respons reviewer film lokal memang beragam, pujian film ini rata-rata mengarah pada bangunan cerita yang kokoh dan sentuhan lokal yang bisa menyatu dengan plot
Sebagai film superhero, film Gundala terbilang paling niat karena menyuguhkan segi cerita yang cukup rapat dan mudah diterima semua kalangan. Karena tergolong film origin yang menceritakan asal muasal Sancaka (Abimana Aryasatya) menemukan jati diri petir dalam dirinya, penyajian plot sudah cukup menjelaskan bagaimana kegalauan batin Sancaka sampai pada akhirnya dia mau menolong sesama. Kehadiran tokoh seperti Pak Agung dan Wulan mampu menyokong perkembangan karakter Sancaka menuju Gundala.

Karakterisasi pemeran antagonis cukup apik, sayangnya penyelesaian masalah yang cenderung terlalu cepat bikin kegeraman penonton belum terpuaskan
Pengkor (Bront Palarae) memainkan peran yang cukup krusial. Sebagai penjahat, Pengkor nggak main-main dan dibangun sebagai sosok yang bengis dengan kekuatan nyaris nggak terkalahkan. Namun bagian akhir film ini gagal menempatkan Pengkor sebagai musuh yang layak berhadapan langsung dengan Gundala. Rasanya, belum ada sebuah benang merah yang benar-benar menyebabkan Pengkor terusik akan kehadiran Gundala.

Bukan dengan warna yang cerah dan musik patriotik, pahlawan ala Joko Anwar adalah mereka yang bersinggungan dengan kekacauan yang terjadi di negeri ini. Sentuhan lokal yang porsinya pas
Secara visual, grading film Gundala mengingatkan kita pada kekacauan 1998, hal ini senada dengan beberapa kekhasan dalam film karya Joko Anwar. Dia ingin menempatkan superhero pada permasalahan yang dekat dengan masyarakat, bukan yang terlalu jauh layaknya konflik dalam film besutan Marvel dan DC. Garapan dialog yang rapat dan Indonesia banget juga nggak mengurangi nilai dramatisnya. Meskipun memang, latar belakang waktu dalam film ini tergolong sureal dan nggak berdasarkan kejadian nyata. Setidaknya Gundala bisa menjadi sebuah parameter bagaimana film superhero BCU bakal ditampilkan.

Baca Juga : Rekomendasi Film Lokal Di Akhir Tahun

Penonton banyak kecewa dengan garapan keseluruhan film ini yang dinilai bisa lebih bagus. Ataukah mungkin kita terlalu berekspektasi dan terlanjut menghadap kiblat Marvel?
Respons penonton terhadap film Gundala sedikit mengingatkan kita pada bagiamana Wiro Sableng (2017) ditayangkan. Sebagian penonton menganggap film ini begitu baik dengan komedi yang pas hingga aksi silat yang memukau. Tapi sebagian lain justru merasa film ini begitu mengecewakan dengan guyonan yang dipaksa masuk dalam dialog dan editing yang kurang matang.

Begitu juga dengan Gundala, sebagai film yang tergolong punya nafas baru, skeptisme dan pesimisme penonton jelas bakal ada. Tapi hal ini nggak seketika mengurangi jumlah fans yang justru optimis dan menganggap Gundala layak jadi parameter film BCU selanjutnya. Semua tentu tergantung pada persepi kita secara keseluruhan, apakah kita siap untuk memberikan apresiasi pada film dengan garapan super serius dan ‘nggak murah’ ini? Atau justru kita nggak bisa menanggalkan kiblat kita akan superhero Hollywood berkostum memukau dan kekuatan super keren? *Lalu seketika terbayang Thor dengan geledek dan storm breaker.*

Baik atau buruk penilaian kita terhadap film Gundala, apresiasi terhadap kerja sineas tetap dibutuhkan. Setidaknya kita siap untuk menyaksikan sedikit demi sedikit kualitas film lokal diperbaiki
Tim Hipwee Hiburan menilai film Gundala tetap perlu ditonton agar kita jadi saksi bagaimana film superhero lokal tumbuh. Film ini lebih dari sekadar layak untuk ditonton kok! Belum lagi, komik dan deretan karakter yang sudah disusun sejak lama ini menandakan bahwa sosok pahlawan legendaris dari Indonesia memang ada. Mau menilai baik atau buruk tentu bebas dong. Setidaknya tindakan kita menilai secara objektif adalah bentuk apresiasi. Tapi kalau belum menonton udah pada ngalor ngidul pembahasannya, ya, mohon maaf nih, mending piknik ke pantai deh biar hidupmu menyenangkan.

Rekomendasi Film Lokal Di Akhir Tahun

Rekomendasi Film Lokal Di Akhir Tahun

mediaindonesia.web.id Kesempatan kali ini kami telah merangkum beberapa artikel yang berkaitan dengan Rekomendasi Film Lokal Di Akhir Tahun.Berikut ini adalah pembahasan dan ulasan yang berkaitan dengan beberapa artikel yang membahas dan berkaitan mengenai Rekomendasi Film Lokal Di Akhir Tahun

Kalau kamu memberikan rekomendasi nonton film lokal tahun 2019, kamu adalah salah satu orang yang masih belum sadar ini sudah bulan Desember dan pergantian tahun sebentar lagi. Sabar, sabar, sembari kamu memikirkan rencana menghabiskan malam tahun baru mau ngapain aja, rekomendasi film dari Hipwee Hiburan juga akan membantumu memetakan antisipasi hiburan di tahun depan.Beberapa daftar judul film di bawah ini memang diprediksi jadi film yang bakalan ramai dan layak banget ditonton. Namun, tentu ini masih sebatas prediksi. Jadi untuk membuktikan rekomendasi ini benar-benar berharga kita perlu saksikan bersama film-film berikut nantinya. Hush! Jangan dulu mengurusi soal box office Hollywood dan film-film superhero yang sudah pasti akan meramaikan bioskop. Produksi film lokal nggak kalah cakep kok. Simak nih!

1. Keluarga Cemara berkisah tentang kehangatan keluarga. Film yang telah tayang pada 2 Januari ini membuat banyak penonton terharu. Bahkan berhasil memboyong 5 kategori penghargaan IMAA 2019!
2. Melanjutkan film pertamanya, Dilan 1991 masih bercerita tentang percintaan dua sejoli. Film yang rilis pada 28 Februari ini meraih sukses besar! Dapat 2 rekor MURI dan ditonton lebih dari 5,2 juta orang
3. Terlalu Tampan diangkat dari serial Webtoon laris, berkisah tentang uniknya kehidupan remaja SMA. Film komedi ini tayang pada 31 Januari dan sukses menjaring 181.208 penonton pada minggu perdananya
4. Dua Garis Biru bercerita tentang pergaulan bebas sepasang remaja. Film yang menyentuh hati ini telah rilis pada 11 Juli dan ditonton lebih dari 2,5 juta orang. Bahkan masuk 5 nominasi Festival Film Bandung!
5. Iqbaal idola remaja masa kini berperan dalam film Bumi Manusia, adaptasi dari buku legendaris karya Pramoedya Ananta Toer. Film ini rilis pada 15 Agustus dan meraih Penghargaan Award of Excellence Sinematek Indonesia
6. Indonesia juga punya film superhero keren, salah satunya Gundala karya Joko Anwar. Film yang melibatkan 1.800 pemain ini dilengkapi berbagai teknologi canggih. Baru aja rilis pada 29 Agustus!
7. Kembali diperankan Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari, My Stupid Boss 2 udah rilis pada 28 Maret lalu. Film komedi ini lucu banget dan ditonton lebih dari 1,8 juta orang
8. DreadOut diadaptasi dari game horor Indonesia. Film seram ini rilis pada 3 Januari silam dan ditonton lebih dari 800 ribu orang. Cocok deh buat kamu yang suka main game!

Baca Juga : Perempuan Tanah Jahanam Mengecewakan

9. Foxtrot Six udah rilis 21 Februari silam. Film berbahasa Inggris ini penggarapannya yang nggak main-main. Jullie Estelle dan Oka Antara hadir dalam sensasi film action yang keren
10. Diadaptasi dari novel, Twivortiare bercerita tentang lika-liku percintaan dua sejoli Beno dan Alexandra. Film ini baru rilis pada 29 Agustus. Cocok nih buat para jomblo maupun yang udah pacaran~
11. Warkop DKI Reborn cocok buat kamu yang suka komedi. Trio Dono, Kasino, dan Indro bakal muncul di bioskop mulai 12 September mendatang. Jangan sampai ketinggalan~
12. Masih diperankan Prilly Latuconsina, Danur 3 bakal tayang di bioskop 26 September mendatang. Film horor lokal ini bakal menghadirkan berbagai adegan seram yang bikin tegang!
13. Dengan mendapuk Laura Basuki, film biopik tentang perjuangan pebulutangkis Susi Susanti bakal dihadirkan dalam film berjudul sama. Siap-siap nonton yuk 24 Oktober mendatang. Semoga filmnya keren!
Semoga film-film ini dieksekusi sesuai ekspektasi, ya. Biar perfilman Indonesia makin kece badai dan nggak kalah saing dengan film-film skala internasional. Tapi nggak menutup kemungkinan, ada film yang nggak terprediksi namun begitu mengesankan dan bagus yang akan tayang tahun depan. Wah, kita nikmati dan awasi saja bareng-bareng, ya, Guys.

Perempuan Tanah Jahanam Mengecewakan

Perempuan Tanah Jahanam Mengecewakan

mediaindonesia.web.id Kali ini kami akan memberikan beberapa ulasan yang berisikan artikel mengenai Perempuan Tanah Jahanam Mengecewakan.Dibawah ini adalah beberapa artikel yang membahas dan berkaitan mengenai Perempuan Tanah Jahanam Mengecewakan

Ide Joko Anwar sepuluh tahun lalu akhirnya terealisasikan dalam sebuah film berjudul Perempuan Tanah Jahanam. Akting Tara Basro dan Marissa Anita cukup menjanjikan, ditambah penampilan Christine Hakim yang brilian. Sayangnya, kesan yang ditimbulkan dari eksekusi babak akhir ini terjun bebas dari ekspektasi penonton. Kali ini, film Perempuan Tanah Jahanam belum berhasil memberikan teror bagi pecinta horor dan gore.Joko Anwar berpesta lagi. Setelah meluncurkan film Gundala yang digadang bakal jadi benchmark film superhero lokal, sang sutradara langsung geber film horor. Perempuan Tanah Jahanam adalah film yang dibilang sudah ditulis semenjak sepuluh tahun lalu. Ide cerita yang memang berbeda dari ‘puji-pujian terhadap setan’ ini jelas lebih segar.

Sayangnya, sebagian penonton mungkin bakal merasakan banyak kekecewaan jika menonton hingga akhir. Nggak sedikit mereka yang sudah patok ekspektasi ketinggian dibuat muram begitu layar bioskop selesai diputar. Sebagian lainnya kemudian bingung, seperti saya, kenapa semua review film ini begitu positif dan nyaris tidak ada kritik? Simak selengkapnya berikut.

1. Ekspektasi: Horor ini bakal berdarah-darah dan sadis. Realitas: Memang ada sih, tapi kurang nendang~
Trailer film ini sudah menunjukkan betapa elemen penyiksaan bakal banyak ditampilkan di sini. Trailer film Prempuan Tanah Jahanam memang tidak bohong. Demi tidak terciptanya spoiler yang mengalir deras seperti darah tanah jahanam, maka intinya janganlah terlalu berharap bahwa elemen darah-darah di sini akan tampil gahar. Darah tetap mengalir, tapi kekejaman belum juga dibilang mengerikan.

2. Ekspektasi: Film ini dibintangi aktor yang bakal tampil memukau. Realitas: Mereka semua memang piawai memainkan peran
Ngomongin soal performa para aktor ‘langganan’ sutradara Joko Anwar, mereka memang piawai. Sebenarnya hal ini tak perlu dirisaukan karena realitas bakal memenuhi ekspektasi penonton. Tara Basro tampil cemerlang, dibantu Marissa Anita yang juga tidak kalah mencuri perhatian dengan lawakannya. Christine Hakim? Jangan ditanya. Bahkan Ario Bayu tampak seribu wajah, bisa jadi remaja tanggung, dan bisa pula jadi seorang bapak. “Bapak, aku anakmu, Pak.” Hmmm~

3. Ekspektasi: Bakalan banyak penampakan dan jump scare ngagetin. Realitas: Teror hantu hanya sekadar teror; seram, tapi nggak bikin pecinta horor cukup risau
Film ini patut diapresiasi karena nggak menggunakan senjata jump scare buat menakut-nakuti penonton. Sebaliknya, atmosfer film ini dibangun dengan baik. Lokasi dan cerita seolah ikut andil dalam menciptakan elemen ngeri. Maka jangan khawatir, film horor ini tidak pakai formula kuno demi terlihat seram.

Baca Juga : Sulitnya Ernest Sempurnakan Film Imperfect

4. Ekspektasi: Cerita yang mindblowing dan eksekusi akhir tidak tertebak. Realitas: Benar ceritanya bagus, tapi pengadeganan yang buruk membuat kita kecewa sampai akhir
Untuk ukuran proyek sebesar ini, film Perempuan Tanah Jahanam bisa dikatakan berpotensi mengundang kekecewaan penonton. Premis yang diberikan Joko Anwar memang baik, tapi penulisan naskah film ini terlihat agak malas dengan pengadeganan cerita yang buruk. Sehingga mungkin di babak akhir, timbul kekecewaan dan harapan yang terjun bebas. Menyaksikan film ini dibangun layaknya jatuh cinta pada seorang perempuan yang cantik luar dalam. Tapi menyelesaikan film ini sama dengan patah hati karena si perempuan tidak mungkin kita miliki.

5. Ekspektasi: Keluar bioskop dengan kagum ditambah perasaan ‘diteror’ yang belum hilang. Realitas: Keluar bioskop dengan perasaan campur aduk, kekecewaan yang klise, dan rasa penasaran mengapa Joko Anwar bisa begini?
Bagian klimaks menuju akhir film bisa dibilang merupakan elemen paling kuat. Jika bagian ini tidak mampu memberikan kesan pada penonton, maka kesan baik yang ada di awal adegan pun bisa terabaikan. Kesan yang terbentuk dari film ini jauh dari ekspektasi semula mengenai betapa kerennya horor garapan Joko Anwar. Penyampaian yang seolah dipaksakan agar durasi dipersingkat membuat penonton lalu kebingungan. Jika memang penceritaannya selugas itu, kenapa kita perlu menonton film?

Akhir kata, ulasan ini tidak dimaksudkan untuk menghentikan niatan khalayak buat menonton film Perempuan Tanah Jahanam. Justru, kamu mungkin perlu membuktikan apakah kesan yang didapat setelah menonton film ini bakal berbeda?

1 2