Beberapa Film Indie Karya Anak Bangsa Terbaik

Beberapa Film Indie Karya Anak Bangsa Terbaik

Mediaindonesia.web.id – Tidak bisa dipungkiri bahwa film film garapan sineas muda Indonesia banyak menghasilkan penghargaan Internasional. Namun, apa sih film indie itu?

Film indie sendiri merupakan film yang dibuat secara independen, merujuk kepada film seni yang berbeda dari sebagian film komersil yang ditayangkan secara massal.

Film indie sendiri biasanya mengambil tema-tema cerita yang dianggap kurang potensial oleh studio besar untuk dipasarkan. Beberapa tema yang diambil biasanya bukan tema yang mainstream, misalnya cerita dengan materi yang kontroversial, teknik film eksperimental.

Dalam pembuatan film indie, sutradara dan kru biasanya menikmati kontrol penuh atas kreasi artistik mereka dalam proses produksi tanpa banyak interupsi.

Berbeda dengan film-film komersil yang dapat langsung dipasarkan ke bioskop, film indie biasanya harus melalui jalur yang lebih panjang untuk sampai pada tahap itu. Nah, film indie yang telah selesai diproduksi kemudian dapat mengikuti kompetisi film besar.

Jika film tersebut sukses meraih penghargaan, film tersebut bisa dilirik distribusi besar untuk dibuat kembali dengan studio dan distributor besar, kemudian film tersebut bisa diputar di bioskop.

Nah, sudah tahu belum kalau beberapa film indie karya anak bangsa terbaik yang berhasil meraih penghargaan bergengsi? Berikut ulasannya untuk Anda,

Film Indie Terbaik Karya Anak Indonesia

Meski akses untuk bisa menikmati film indie karya anak bangsa terbatas, sehingga Anda butuh ekstra keras untuk bisa menonton film ini.

Meskipun begitu, bukan berarti film indie tidak boleh diabaikan begitu saja. Film indie mampu meraih penghargaan di ajang festival film internasional, lo!

Baca Juga : Berikut Fakta Menarik Film Gundala

1. Ziarah

Film Ziarah ini berhasil memenangkan dua kategori dari empat nominasi di ajang ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) di Kuching, Serawak, Malaysia.

Dua kategori yang berhasil dimenangkan, yakni Best Screenplay dan Special Jury Award. Sebelumnya, Ziarah juga menjadi film feature terbaik dalam ajang Samaindana Asian Film Festival 2016 di Filipina.

Hebatnya, semua pemain film Ziarah sebelumnya tidak punya pengalaman akting sama sekali, lo. Mereka juga sudah berusia lanjut, seperti Ponco Sutiyem, yang memerankan Mbah Sri, yang sudah berumur 95 tahun.

Film Ziarah sendiri bercerita tentang perjalanan Mbah Sri mencari makam asli mendiang suaminya, Prawiro, yang meninggal saat perang. Selama ini, Mbah Sri tahunya makam suaminya adalah sebuah gundukan tanah yang di atasnya ada bambu runcing dan bendera.

Dari cerita salah seorang veteran perang, Mbah Sri pun memulai perjalanannya, meski harus berkali-kali berganti kendaraan umum, berjalan kaki melewati lembah dan bukit, bahkan harus menyebrangi sungai.

Ziarah akhirnya tayang di bioskop pada 18 Mei 2017, uniknya film ini melakukan gala premiere yang berbeda dari biasanya. Gala premiere diadakan di puncak Gunung Gambar, Gunung Kidul, Yogyakarta dan mendapat sambutan hangat dari warga Gunung Kidul. Pemutaran film menggunakan layar tancap, lo! Menarik banget kan?

2. Solo, Solitude (Istirahatlah Kata-Kata)

Film yang mengangkat kisah hidup Wiji Thukul ini juga berhasil meraih banyak penghargaan di ajang internasional. Film ini berhasil menyabet penghargaan untuk Film Terbaik di Jogja – NETPAC Asian Film Festival.

Selain itu, diikutsertakan dalam kompetisi film Vladivostok Film Festival – Rusia, Hamburg International Film Festival – Jerman, dan QCinema Film Festival di Filipina.

Tidak cuma di Indonesia, kisah hidup Wiji Thukul ini juga ditayangkan di berbagai festival film Internasional, seperti di Locarno – Swiss, Toronto – Kanada, dan di Busan International Film Festival, Korea Selatan. Film ini menceritakan seorang aktivis asal Solo, Jawa Tengah, yang terkenal sangat berani dan vocal.

Jasa seorang Wiji Thukul dinilai besar karena ia sangat berperan penting dalam perkembangan demokrasi Indonesia, tepatnya saat menjelang runtuhnya rezim Soeharto pada masa awal reformasi.

Ia melarikan diri ke Pontianak pada 27 Juli 1996, akhirnya ia dinyatakan hilang pada tahun 1998 bersama 12 aktivis lainnya. Hingga kini Wiji Thukul dinyatakan hilang tanpa diketahui keberadaannya.

3. Seeking Soulmate

Film komedi ini merupakan keluaran dari kompetisi LA Indie Movie 2015, Seeking Soulmate berhasil meraih penghargaan di Balinale International Film Festival 2016.

Dilihat dari judulnya, bisa ditebak film ini menceritakan tentang apa kan? Ya, Seeking Soulmate bercerita soal satu geng yang masih jomblo.

Mereka pun membahas permasalahan yang menyebabkan mereka masih jomblo, walaupun sudah dewasa dan punya pekerjaan yang menjanjikan. Cerita ini dibuat begitu simple, tapi sangat berhubungan dengan realita yang sering kita alami.

4. Postcard From The Zoo

Film yang dirilis pada tahun 2012 ini berhasil memenangkan banyak penghargaan Internasional, salah satunya The 62nd Berlin Film Festival dan menjadi salah satu film unggulan di Berlinale.

Postcard From The Zoo dibintangi aktor dan aktris Indonesia, Nicholas Saputra dan Ladya Cheryl, bercerita tentang Luna yang ditinggalkan orangtuanya di kebun binatang, dan akhirnya dibesarkan oleh para pekerja kebun binatang.

5. What They Don’t Talk When They Talk About Love

Film ini merupakan film Indonesia pertama yang diputar di ajang Sundance Film Festival tahun 2013. Film ini bersaing dengan sebelas film dari negara lain untuk kategori World Cinema Dramatic Competition.

What They Don’t Talk About When They Talk About Love ini juga berhasil memenangkan NETPAC Award 2013 di International Film Festival Rotterdam, Belanda.

Selain itu, film ini juga ditayangkan di beberapa negara, seperti Hawaii International Film Festival, Hong Kong International Film Festival, Terracoota Far East Film Festival – Inggris, Busan International Film Festival, dan masih banyak lagi.

Berikut Fakta Menarik Film Gundala

Berikut Fakta Menarik Film Gundala

Mediaindonesia.web.id – Setelah menonton Trailer film Gundala, banyak masyarakat mengaku tak sabar menunggu film tersebut tayang di layar lebar. Namun sayangnya film jagoan versi Indonesia ini baru akan tayang pada 29 Agustus 2019 mendatang.

Trailer film Gundala rupanya juga turut ditayangkan dalam acara We The Fest 2019. Trailer berdurasi dua menit itu ditampilkan dari panggung utama pada hari kedua We The Fest, di JIExpo Kemayoran Jakarta Pusat.

Dalam trailer tersebut, terlihat karakter Sancaka kecil dengan ekspresi marah dan kesal. Tak hanya itu ia juga basah kuyup. Tak hanya itu, film ini memperlihatkan kondisi Jakarta yang kacau, kerusuhan di mana-mana.

Film Gundala Putra Petir ini dikerjakan oleh Bumi Langit Studios bersama Screenplay Films dan Legacy Pictures, Berikut telah kami rangkum fakta fakta mengenai film Gundala.

1. Diambil dari Serial Komik Indonesia

Gundala merupakan karakter jagoan dalam komik legendaris Indonesia. Karakter Gundala lahir dari karya komikus Harya Suraminata atau yang akrab dengan sebutan Hasmi. Hasmi menciptakan tokoh ini di komiknya lantaran dirinya terinspirasi oleh seorang tokoh Jjawa yang bernama Ki Ageng Selo yang diyakini memiliki kekuatan bisa menangkap petir.

Karakter Gundala dibuat mirip dengan Ki Ageng Selo. Jagoan yang satu ini dapat mengalahkan musuh-musuhnya dengan sejumlah kekuatan istimewa yang bersumber dari petir. Komik Gundala telah rilis 23 judul hingga 1982. Karakternya yang “merakyat”, memberikan kedekatan dan kebanggaan tersendiri bagi para penggemarnya di Indonesia.

2. Melibatkan Aktor Ternama

Selain Abimana Aryasatya, ada beberapa aktor dan aktris ternama lainnya yang ikut serta dalam penggarapan film ini salah satunya ialah Tara Basro. Dalam film Gundala, Tara Basro berperan sebagai seorang wanita yang bernama Wulan.

Tak hanya itu, film Gundala juga melibatkan aktor Indonesia yang kerap terlibat dalam film Hollywood, yaitu Cecep Arif Rahman. Di film ini Cecep berperan sebagai penari, tetapi tak hanya itu saja, Cecep rupanya juga menjadi penanggung jawab koreografi dalam film Gundala.

3. Syuting di 70 Tempat

Film jagoan Indonesia ini ternyata menjalani syuting di berbagai tempat. Tak tanggung-tanggung dalam proses pengambilan gambar, Gundala menggunakan 70 lokasi yang terbilang sebentar yakni kurang dari dua bulan.

Maka dari itu, para pemain bisa berpindah hingga dua tempat berbeda dalam satu hari. Film ini juga melibatkan banyak pemain. Total ada 1.800 pemain yang terlibat film garapan Joko Anwar ini.

Baca Juga : Fakta Dave Bautista Lawan Main Iko Uwais di Film Stuber

4. Naskah Dibuat di Tempat yang tak Biasa

Dalam proses pembuatan naskah film Gundala, Joko Anwar selaku sutradara sekaligus penulis naskah mengaku membuat adegan demi adegan di tempat yang tak diduga. Joko mengaku menulis naskah film Gundala ini di beberapa tempat tak terkecuali, kuburan dan museum.

Joko menghabiskan waktu empat bulan untuk menyelesaikan skenario Gundala. Hal ini lantaran Joko Anwar menginginkan jalan cerita Gundala cocok dengan zaman sekarang.

5. Kostum Dibuat di Los Angeles

Tidak hanya tentang naskah dan skenario, Joko Anwar selaku sutradara yang menggarap film ini tentunya juga memperhatikan perihal kostum yang akan di pakai Gundala. Tak tanggung-tanggung, Joko bahkan memproduksi kostum tersebut sampai ke Los Angeles, Amerika Serikat. Yang lebih membuat orang tercengang ialah tempat pembuatan kostum Gundala ternyata adalah tempat yang sama dengan produksi kostum superhero Marvel, Daredevil. Benar-benar keren!

Dan yang lebih membuat menarik ialah proses pembuatan kostum Gundala ini. Kostum dibuat dengan proses yang tidak biasa melainkan dengan menggunakan sistem 3D scan full.

6. Biaya Tak Sentuh Rp 5 Triliun

Walaupun disebut sebagai film superhero pertama keluaran Indonesia dan melibatkan 1.800 pemain, ternyata biaya produksi film Gundala tidak menyentuh angka 5 Triliun. Hal ini di ungkapkan Joko Anwar langsung.

Namun sayangnya Joko tidak menyebutkan nominal pasti berapa anggaran yang harus dikeluarkan dalam proses pembuatan film ini.

“Yang jelas biayanya tak sampai Rp 5 triliun. Industri film Indonesia, kan belum sebesar Hollywood. Namun saya menjanjikan cerita yang relevan, memotret persoalan masyarakat Indonesia saat ini sehingga usai menonton, penonton bisa mendiskusikannya dengan orang lain. Jangan sampai keluar bioskop, penonton mudah melupakan film ini,” tutur Joko Anwar.

Fakta Dave Bautista Lawan Main Iko Uwais di Film Stuber

Fakta Dave Bautista Lawan Main Iko Uwais di Film Stuber

Mediaindonesia.web.id – Selain Iko Uwais, yang menyita perhatian publik dari film Stuber adalah performa Dave Bautista. Pencinta film mengenal Dave Bautista lewat film Guardians of the Galaxy. Dalam film itu, Dave Bautista memerankan Drax. Sementara di Stuber, Dave Bautista menjadi polisi sekaligus orangtua tunggal bernama Vic Manning.

Vic Manning berupaya melacak keberadaan penjahat bernama Oka Tedjo yang diperankan Iko Uwais. Dalam pencarian itu, ia terpaksa berekanan dengan Stu (Kumail Nanjiani), seorang pengemudi taksi daring.

Dave Bautista aktor kelahiran Washington DC, AS, 18 Januari 1969. Namanya dikenal publik lewat ajang World Wrestling Entertaiment pada awal 2000. Dave Bautista mempunyai darah Filipina dari ayahnya serta Yunani dari sang ibu.

Dave Bautista juga pemegang sabuk ungu Jiu-jitsu dan mahir dalam seni beladiri Muay Thai, Wushu, dan Kickboxing. Berikut fakta menarik bintang Stuber Dave Bautista, yang kami rangkai dari berbagai sumber.

Mantan Tukang Pukul

Sebelum menjadi atlet gulat, Dave Bautista berkali-kali menjadi tukang pukul dari klub ke klub ketika tinggal di Washington DC, Amerika Serikat. Ia pernah juga berprofesi sebagai penjaga kolam renang.

Menolak Fast and Furious

Dave Bautista sempat bikin heboh di jagat maya setelah menanggapi warganet yang berharap ia dipertimbangkan sebagai salah satu pemain Fast and Furious jilid berikutnya. Merespons harapan warganet, Dave mencuit, “Terima kasih atas pertimbangannya.” Tak hanya itu, ia menyertakan tagar “aku lebih baik bermain di film-film bagus.”

Sejumlah warganet khususnya penggemar Fast and Furious tampaknya tersinggung lalu mengunggah sejumlah film yang pernah dibintangi Dave Bautista. Di antaranya, Escape Plan 2: Hades yang hanya diberi nilai 3/10 oleh kritikus serta pencinta film, Final Score (5/10), dan Kickboxer Vengeance (4/10).

Baca Juga : Stuber Komedi Spontan dengan Pemain yang Tidak Jaim

Isu Keragaman dalam Film

Terkait film Stuber, Dave Bautista menjelaskan belakangan ia senang mengerjakan film yang diperkuat para pemain dari beragam etnis. Dave Bautista berpendapat, film semestinya mencerminkan wajah masyarakat yang sesungguhnya.

“Saya berpikir beginilah wajah Amerika (yang majemuk) dan saya percaya masyarakat ingin melihat diri mereka sendiri di layar lebar,” ujar Dave Bautista ketika diwawancara Variety, bulan ini.

Sudah Punya Cucu

Dave Bautista menikah dengan Glenda pada 1990. Keduanya bercerai delapan tahun kemudian. Dari pernikahan ini, Dave Bautista dikaruniai dua putri yakni Keilani dan Athena. Keilani memberikan dua cucu laki-laki untuk Dave bernama Jacob dan Aiden.

Istri Kedua Melawan Kanker

Usai bercerai dari Glenda, Dave Bautista menikahi Angie Lewis pada 1998. Delapan tahun kemudian pasangan ini berpisah. Tragisnya, Angie Lewis bercerai saat sedang berjuang melawan kanker. Setelah berpisah, Angie diketahui melahirkan bayi laki-laki yang dinamai Oliver.

Stuber Komedi Spontan dengan Pemain yang Tidak Jaim

Stuber Komedi Spontan dengan Pemain yang Tidak Jaim

Mediaindonesia.web.id – Stuber tayang di bioskop Tanah Air mulai Rabu (24/7/2019). Film ini mempertemukan Iko Uwais dengan bintang Guardians of the Galaxy Dave Bautista. Masih menampilkan genre aksi, bedanya Stuber menempatkan Iko Uwais sebagai penjahat.

Tenang, performa Iko Uwais dalam Stuber tidak akan mengingatkan Anda pada Mile 22. Aroma komedi yang lumayan pekat dan muncul tenggelamnya Iko Uwais di plot cerita, membuat Stuber di luar dugaan lebih enak dinikmati.

Stuber mengisahkan operasi penangkapan Oka Tedjo (Iko) oleh sepasang polisi Vic Manning (Dave Bautista) dan Sara Morris (Karen Gillan). Lewat aksi baku tembak dan baku hantam di gedung bertingkat, Tedjo yang dikenal licin berhasil kabur.

Sara Morris tertembak lalu meninggal dunia. Kasus ini kemudian diambil alih oleh agen Angie (Mira Survino). Vic yang terpukul, diminta istirahat selama beberapa hari. Momen ini digunakan Vic untuk menghangatkan hubungan dengan putrinya, Nicole (Natalie Morales).

Balas Dendam

Suatu siang, Vic mendapat kabar pergerakan Tedjo dan lokasi ia beraksi. Dilandasi motivasi untuk membalaskan dendam Sara, Vic tanpa sepengetahuan Angie melacak keberadaan Tedjo. Ia menggunakan taksi daring yang dikemudikan oleh Stu (Kumail Nanjiani).

Memberantas penjahat dengan bantuan sipil amatir membuat Vic berkali-kali kewalahan. Beberapa petunjuk di lapangan kemudian menuntun Vic untuk menguak konspirasi tingkat tinggi.

Yang menarik dari Stuber adalah chemistry yang dibangun karakter Stu dan Vic. Perbedaan latar belakang, menciptakan gesekan yang memantik tawa. Vic orang tua tunggal, nyaris tak punya waktu buat anak dan berambisi menyelesaikan kasus yang dimulainya.

Stu adalah pria kesepian, jatuh cinta pada rekan bisnis sekaligus sahabat, namun tak berani mengungkapkan. Sejujurnya, ini masih samar mengingat kita tidak bisa melihat latar belakang Vic dan Stu dengan lebih detail. Khususnya, riwayat keluarga yang membentuk kepribadian mereka.

Baca Juga : Industri Film Indonesia Dinilai Masih Kekurangan SDM Mumpuni

Bak Roller Coaster

Sineas Michael Dowse mengakalinya dengan membangun grafik konflik bagai roller coaster. Memulai Stuber dengan kejar-kejaran yang heboh, Michael kemudian memperkenalkan karakter demi karakter dan menciptakan pertemuan tak terduga, melacak biang konflik, dan memperlihatkan proses menangani konflik.

Di sela pencarian dan penanganan, Michael memperlihatkan seberapa penting Stu bagi Vic, begitu pula sebaliknya. Keduanya digambarkan memiliki cacat masing-masing. Itu sebabnya saat bertemu, mereka saling melengkapi.

Di pihak seberang, kita melihat Oka Tedjo yang seolah sendiri. Iko menghidupkan tokoh ini dengan pendekatan berbeda mulai dari gaya rambut hingga gaya berbusana dengan warna cerah. Ada garis perbedaan yang jelas antara tokoh Oka Tedjo dengan karakter-karakter lain yang dimainkan Iko sebelumnya.

Stuber salah satu langkah maju bagi Iko. Di sini, ia tampak relaks dan aktif menyemai benih-benih tawa. Mayoritas bumbu komedi dipicu oleh situasi. Selebihnya “kebodohan” karena baru pertama kali berhadapan dengan problem semacam ini.

Keunggulan

Inilah titik unggul Stuber. Meramu formula komedi dengan merekrut pemain yang tidak jaim. Sebagai sebuah komedi, Stuber tidak berada di level paripurna. Guyonannya tidak 100 persen cerdas atau sok cerdas.

Bahkan, beberapa dialognya terdengar kotor. Namun, unsur spontan dan aksi reaksi dinamis menyelamatkan Stuber dari citra komedi jorok nan receh. Belum lagi, akhir film ini membuat hati terasa sejuk.

Kesejukan dipicu dua agegan, yakni hubungan ayah dan anak, serta penerimaan yang dilakukan dua generasi dalam satu atap. Dua momen ini membuat Stuber bagaikan jamuan makan malam yang berakhir manis.

Stuber layak ditonton di kala pikiran buntu. Efek relaksasinya membuat ketegangan di pikiran perlahan mengendur.

Sisi positif lain film ini, semangat keragaman yang diusung dalam kemasan kasual. Dari keragaman warna kulit, orientasi, profesi, selera musik, hingga formula good cop-bad cop.

Industri Film Indonesia Dinilai Masih Kekurangan SDM Mumpuni

Industri Film Indonesia Dinilai Masih Kekurangan SDM Mumpuni

Mediaindonesia.web.id – Meski berkembang pesat, film Indonesia dinilai masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang merupakan lulusan sekolah perfilman. Produser sekaligus penulis skenario Salman Aristo menilai, industri perfilman di Indonesia berkembang berdasarkan insting dan perasaan.

“Film Indonesia ini modalnya keimanan. Yakin saja dulu kalau akan laku, yakin saja kalau poster, trailer atau bahkan filmnya akan bagus,” ujar pria yang akrab disapa Aris itu, yang sontak membuat tertawa peserta seminar ‘Movie Industry’ di BSD City, Kabupaten Tangerang, Sabtu (27/7/2019).

Sejak era reformasi, film Indonesia memang berkembang pesat. Namun selama itu juga tidak ada infrastruktur serta SDM yang menunjang, agar industri perfilman di Indonesia bisa sepesat Hollywood.

Padahal membuat trailer atau cuplikan film untuk promosi saja, sekelas Hollywood pun ada sekolahnya. Termasuk membuat poster, menulis skenario, dan hal kecil lainnya di dunia perfilman. “Kalau mau belajar memang harus ke sana,” ujar pria yang memproduseri film Dua Garis Biru itu.

Lalu, hal serupa juga diungkapkan produser Odi Mulya Hidayat. Pria yang berada di balik layar sejumlah film jutaan penontonnya itu, menilai Indonesia masih pincang di dunia pendidikan perfilman.

“Pertama itu, apa yang terjadi saat ini adalah buah dari ketidakcukupan infrastruktur pendidikan. Indonesia saat ini hanya memiliki enam sekolah perfilman,” ujar Odi.

Baca Juga : Film Koboy Kampus

Belum Merata

Lalu ketersediaan layar bioskop di Indonesia juga dinilai belum merata dan hanya terpusat di Pulau Jawa. Indonesia memiliki sekitar 1.700-an layar bioskop, masih tertinggal di antara negara Asia lainnya.

Odi pun berharap, tantangan perfilman ini bisa dijawab dengan secepatnya. Agar industri ini semakin maju pesat, bersama dengan para talenta aktor dan kru di dalamnya.

Sementara, Patrick Effendy pemilik Creative Nest Indonesia yang menyelenggarakan seminar perfilman tersebut mengaku, seminar kali ini jadi ajang mempertemukan anak muda yang baru mempelajari industri perfilman dengan para expert.

“Bukan hanya produser, eksekutif produser. Tapi ada juga penulis skenario, distributor dan penggiat film lainnya,” ujar Patrick.

Film Koboy Kampus

Film Koboy Kampus

Mediaindonesia.web.id – Sebuah Film berjudul Koboy Kampus mengangkat kisah kehidupan Pidi Baiq bersama The Panasdalam. Film yang digarap dua rumah produksi ini diadaptasi dari novel laris dengan judul yang sama.

Film Koboy Kampus yang disutradarai Pidi Baiq dan Tubagus Deddy ini bakal tayang serentak di bioskop mulai 25 Juli 2019 mendatang. Jelang tanggal penayangannya, film Koboy Kampus merilis poster resminya.

Lewat Koboy Kampus, Pidi Baiq bercerita mengenai caranya bersama The Panasdalam Bank mengkritisi pemerintahan Orde Baru pada 1995 melalui karya-karyanya. Bersama The Panasdalam Bank juga, Pidi membentuk Negara Republik Kesatuan The Panasdalam.

“Koboy Kampus udah fix Pidi Baiq. Story tellingnya juga beda. Waktu itu storynya mahasiswa nggak lulus tepat waktu. Saat itu ayah Pidi Baiq bikin negara The Panasdalam, itu merupakan bentuk dari isi hati sebagian mahasiswa ITB yang lebih memilih mengkritisi pemerintahan di era orde baru,” ujar Tubagus Deddy saat ditemui di kawasan SCBD, Jakarta Selatan,

Baca Juga : Film Ikut Aku Ke Neraka

Karakter

Untuk membuat filmnya mendekati karakter aslinya, Pidi Baiq memilih beberapa pemain untuk memerankan tokoh di dalamnya, Jason Ranti dipilih langsung oleh Pidi Baiq untuk memerankan sosok dirinya di film ini.

Selain Jason, aktor Ricky Harun (Ninuk), Bisma Karisma (Deni), David John (Erwin), Miqdad Auddasy (Dikdik), Steffi Zamora (Rosi), Danilla Riyadi (Nova), Vienny JKT48 (Nia), Christina Colondom (Santi), Jennifer Lepas (Inggrid), Anfa Safitri (Rianto), Chicha Koeswoyo (Ibunya Pidi) dan Ria Irawan (Ibunya Nia) juga bermain di film ini.

Jason Ranti dan Bisma Karisma mengaku dipaksa Pidi Baiq bermain di film Koboy Kampus ini.

“Saya diteror, di WhatsApp sama asistennya. Ngomongnya ditunggu di The Panasdalam. Dalam hati ‘Wah ngapain. Mana orangnya udah tua-tua kan’. Terus, (saya) diminta sama ayah (Pidi Baiq) suruh jadi dia. Ya udah, sedetik doang langsung jawab mau,” kata Jason di tempat yang sama.

Presiden

Sementara Bisma Karisma memerankan Deni yang juga Presiden Negara Republik Kesatuan The Panasdalam. Bisma juga diminta langsung oleh Pidi Baiq untuk bermain di film Koboy Kampus.

“Saya disuruh dan dipaksa sama imam besarnya (Pidi Baiq) dan temen lainnya. Dan singkat cerita dipilih dan jadi presiden untuk negara yang sedikit warganya lebih gampang daripada jadi Presiden Indonesia yang banyak warganya,” pungkas Bisma.

Film Ikut Aku Ke Neraka

Film Ikut Aku Ke Neraka

Mediaindonesia.web.id – Dari judulnya saja, Ikut Aku Ke Neraka sudah pasti mengingatkan kita pada film karya sineas Sam Raimi, Drag Me To Hell yang dirilis 10 tahun silam. Tentu saja Ikut Aku Ke Neraka bukan versi Indonesia Drag Me To Hell.

Lewat Ikut Aku Ke Neraka, sineas Azhar Kinoi Lubis dan Fajar Umbara mencoba menciptakan semesta kecil dengan menempatkan pasangan muda sebagai poros. Ada pewarnaan dan lokasi yang khas dalam Ikut Aku Ke Neraka. Ini memudahkan kita untuk mengingat detail karakter. Cukupkah ini untuk mencuri perhatian penonton?

Ikut Aku Ke Neraka menampilkan pasutri Rama (Rendy) dan Lita (Clara) yang menempati rumah baru. Lita yang hamil tua akhirnya melahirkan seorang bayi. Sejak anaknya lahir, Lita makin kerap diteror penampakan perempuan berambut panjang. Tak hanya menampakkan diri, sosok ini beberapa kali muncul di kamar bayi bahkan menggendong anak Lita. Panik, Lita menceritakan ini pada suami. Awalnya Rama tak percaya.

Suatu hari, dalam perjalanan memakai mobil, Rama merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata. Sadar bahwa yang dikatakan istrinya benar, Rama mengundang Adam (Rifnu), seorang cenayang untuk melacak keberadaan makhluk halus. Terpisah, ada pasien rumah sakit jiwa bernama Sari (Cut) yang dirawat dokter Shinta (Sara) dan Suster Widya (Rini). Seperti Lita, Sari kerap diteror hantu perempuan berambut panjang.

Semesta Kecil Nan Mencekam

Menggunakan pewarnaan yang cenderung cerah untuk desain interior rumah dan suasana remang berkabut untuk jalanan dan lingkungan rumah sakit, Ikut Aku Ke Neraka mencoba menciptakan semestanya sendiri.

Semesta kecil berisi teror dan kepanikan dari pasangan yang tak punya referensi soal makhluk gaib. Mulanya kedua tokoh utama panik, lalu Adam yang hadir di tengah jalan menjelma menjadi cermin. Ia jadi alat kilas balik untuk menengok penyebab teror dan mencari solusi.

Sepanjang cerita kita mendapati tokoh utama film ini berada di rumah, kantor desa, rumah cenayang, dan sesekali berpindah ke rumah sakit.

Mata rantai yang menghubungkan tokoh utama dan rumah sakit jiwa dijalin dengan cukup rapi. Paruh pertama film ini membuat kita bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Lita. Sayang, memasuki paruh kedua para tokoh justru kurang berkembang.

Baca Juga : Sonic The Hedgehog Akan Ditunda Karena Revisi

Sekilas Mengingatkan pada Film Kafir

Bagaikan ruang yang terus menyempit, tokoh-tokoh Ikut Aku Ke Neraka makin depresi kemudian redup. Adam sebagai titik cerah tidak setangguh yang dibayangkan. Hantu yang menyakiti mengingkari motivasi semula, yakni untuk menyampaikan pesan. Yang terjadi kemudian, tokoh utama seolah dibiarkan sendiri sementara kondisi di sekitar makin berdarah-darah. Sebagai sebuah horor, atmosfer Ikut Aku Ke Neraka sebenarnya sudah menemuhi kriteria mencekam.

Sinematografinya syahdu, penyuntingan gambarnya tidak mengganggu penonton dalam mengikuti jalan cerita. Gaya Azhar dalam mengemas film ini, sekilas mengingatkan kita pada karya sebelumnya, Kafir Bersekutu dengan Setan. Bedanya, naskah film Kafir memungkinkan sejumlah tokoh bergerak leluasa dan diberi latar belakang terang. Alurnya pun penuh kejutan.

Latar yang terang memungkinkan para aktor mengintepretasi peran dengan lebih bertenaga. Itu sebabnya tokoh Sri begitu berkesan dan performa Putri Ayudya diganjar nominasi Piala Citra. Di sini, kami jatuh cinta pada keteguhan Lita. Namun paruh kedua film ini membuat perkembangan Lita seolah jalan di tempat. Begitu pun karakter-karakter lain. Sebagai sebuah hiburan, Ikut Aku Ke Neraka masih menarik berkat semesta kecilnya yang mencekam.

Sonic The Hedgehog Akan Ditunda Karena Revisi

Sonic The Hedgehog Akan Ditunda Karena Revisi

Mediaindonesia.web.id – Kisah mengenai film mengenai landak biru Sonic the Hedgehog sangat populer di kalangan para pecinta game. Kini, karakter tersebut telah diadaptasi ke sebuah film layar lebar berjudul sama.

Sayangnya, reaksi yang tak terduga datang dari fans setelah melihat poster dan trailer yang diluncurkan Paramount selaku rumah produksi. Kritik demi kritik datang secara masif. Alasan utamanya adalah desain karakter Sonic the Hedgehog yang begitu jauh berbeda dari sosok aslinya dalam game. Singkat kata, desain Sonic di film dinilai lebih jelek.

Menanggapi hal itu, Tim Miller selaku produser eksekutif memutuskan untuk menunda penayangan Sonic the Hedgehog guna melakukan revisi. Tim memilih untuk mendengarkan masukan fans daripada nanti malah membuat banyak orang kecewa setelah filmnya tayang.

“Ini adalah sebuah waralaba. Maka dari itu hasilnya harus sangat bagus,” ujar Tim seperti dilansir dari situs Variety.

Sempat Ada Diskusi

Ketika desain tokoh Sonic dikritik, Tim pertama kali menemui Jeff Fowler selaku sutradara. Ia ingin mendiskusikan rencana untuk merevisi desainnya. Dan ternyata mereka memang punya pikiran yang sama.

“Aku setuju dengan para fans, begitu pula Jeff. Ketika Sonic dibanjiri kritikan, aku menemui Jeff dan berkata, ‘Hal paling penting adalah mengakui bahwa kita telah melakukan sebuah kesalahan’. Dan ternyata Jeff sudah berinisiatif untuk minta maaf kepada fans lewat sebuah cuitan sebelum aku datang. Dia orang yang baik. Itu memang cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini karena fans juga punya andil dalam hal ini,” kenangnya.

Baca Juga : Rekomendasi Film Berjudul The Hustle

Sebelumnya, Sonic the Hedgehog dijadwalkan tayang pada Bulan November 2019. Namun setelah diundur, maka kemungkinan film-nya nanti bakal tayang pada sekitar Februari 2020.

Bikin Terkesan

Sejauh ini, desain Sonic yang baru sukses membuat Tim terkesan. Menurutnya, fans juga bakal sangat puas dan senang dengan desain terbaru dari tokoh ini.

“Aku sudah puas (dengan desain barunya). Dan aku yakin fans akan merasakan hal sama,” sambung Tim.

Aktor Ben Schwartz didapuk sebagai pengisi suara dari Sonic. Sementara itu, aktor kondang Jim Carrey juga bakal terlibat sebagai musuh bebuyutan Sonic, Doctor Robotnik. Beberapa nama lain yang juga muncul dalam film ini adalah James Marsden, Tika Sumpter, Natasha Rothwell, Neal McDonough, dan Adam Pally.

Hak milik game Sonic awalnya dimiliki oleh Sony, namun Paramount mengambil alih proyek film adaptasinya. Setelah ditunda, kemungkinan besar Sonic the Hedgehog bakal tayang pada Hari Valentine 2020 mendatang.

Rekomendasi Film Berjudul The Hustle

Rekomendasi Film Berjudul The Hustle

Mediaindonesia.web.id – Film berjudul The Hustle sebenarnya merupakan suatu fenomena yang menarik. The Hustle remake dari film Dirty Rotten Scoundrels karya sineas Frank Oz yang dirilis pada 1988. Dirty Rotten Scoundrels sendiri remake film Bedtime Story rilisan 1964 yang dibintangi legenda Hollywood, Marlon Brando.

Meski remake, The Hustle tak sepenuhnya mengadopsi Dirty Rotten Scroundles. Dirty Rotten Scoundles menempatkan aktor Michael Caine dan Steve Martin sebagai pemeran utama. Sementara The Hustle memasang dua aktris di garda depan.

Kisah The Hustle dimulai dengan kopi darat Penny Rust (Rebel Wilson) dengan Jeremy (Timothy Simons) di sebuah bar. Jeremy hendak bertemu Madison yang dikenalnya lewat aplikasi kencan. Madison ternyata tokoh fiktif yang diciptakan Penny untuk mengelabui Jeremy.

Penny memberi tahu Madison tak bisa bertemu karena tak percaya diri dengan ukuran payudaranya yang kecil, tak seperti foto yang dikirimkannya. Madison bekerja keras menabung untuk pasang implan. Kadung jatuh hati, Jeremy rela mentransfer uang untuk membantu Madison operasi.

Baru mau dikirim uangnya, aksi Penny digagalkan aparat kepolisian. Beruntung, Penny berhasil lolos. Dalam perjalanan menggunakan kereta, Penny bertemu Josephine (Anne Hathaway). Cewek ini diam-diam mendengar bualan Penny pada calon korbannya di kereta.

Bersama dua asistennya, Brigitte (Ingrid Oliver) dan Albert (Nicholas Woodeson), Josephine mengajari Penny menipu dengan elegan. Ironisnya di tengah jalan, Penny dan Josephine malah berlomba menipu miliarder muda, Thomas (Alex Sharp) penemu aplikasi YoBurnt.

Baca Juga : Fakta Menarik Film The Lion King

Lucu

Kesan pertama menonton film ini, lucu. Kelucuan muncul berkat performa Anne dan Rebel yang sukses menampilkan dua penipu beda kasta.

Anne mewakili perempuan berkelas, berfisik ideal, kaya raya, dan serbabisa. Ia bertemu Penny yang berbeda 180 derajat. Sepintas interaksi keduanya mengingatkan kita pada polah Sandra Bullock dan Mellisa McCharthy di film The Heat (Paul Feig, 2013). Bedanya, ini dunia penjahat. The Hustle murni sebagai komedi kriminal.

Sayangnya, The Hustle terjebak pada gaya melawak karikatural dan komedi slapstick. Adegan terpeleset atau jatuh di lantai masih saja muncul.

Begitu pula adegan latihan melompat malah melipir, membuka tutup botol sampai berguling di lantai, atau melempar pisau dan ya, Anda tahu apa yang terjadi selanjutnya. Anda yang terbiasa menonton komedi tak akan tertawa di adegan ini. Yang lucu, persaingan keduanya dengan saling mencuri metode penipuan yang kemudian menjadi adu gila.

Kurang Greget

Baik Anne maupun Rebel tampak luwes dalam menghidupkan karakter. Hanya, di beberapa momen keduanya tampak berjarak. Khususnya di adegan Penny pura-pura pingsan lalu ditendang atau adegan di meja judi.

Persaingan dan kebencian yang tepercik di antara keduanya kurang greget. Faktor reading atau memang chemistry yang belum erat? Bisa jadi. Gangguan lain datang dari beberapa adegan yang terkesan ujug-ujug terjadi. Kedatangan Penny di rumah mewah Josephine, misalnya.

Beberapa proses yang tampak instan membuat sejumlah adegan seperti baju yang dijahit tergesa-gesa. Problem-problem inilah yang mungkin membuat The Hustle dihujani reaksi negatif oleh kritikus film. Fluktuasi cerita kurang nikmat padahal lawakannya tergolong memikat. Pisau kritik paling tajam bisa jadi menyasar ke Anne Hathaway. Reputasinya sebagai aktris peraih Oscar yang jeli memilih peran dipertanyakan. Sebelumnya, ia tampil di film Serenity yang kualitasnya juga mengecewakan.

Masih Layak Tonton

Selain Anne, sineas Chris Addison juga menyangga beban berat. Sebagai informasi, versi klasik The Hustle, Dirty Rotten Scoundles, justru kebanjiran respons positif. Bahkan, performa Michael Caine diganjar nominasi Pemeran Utama Pria Layar Lebar Musikal atau Komedi Terbaik di ajang Golden Globe 1989.

Terlepas dari sejumlah catatan negatifnya, The Hustle tetap layak tonton. Selera humor receh dan alur yang mudah diikuti adalah solusi mustajab bagi Anda yang sedang suntuk.

Fakta Menarik Film The Lion King

Fakta Menarik Film The Lion King

Mediaindonesia.web.id –  Film The Lion King versi live action tayang di jaringan bioskop Indonesia, pekan ini. The Lion King versi 2019 menambah panjang daftar film animasi Walt Disney yang dibuat versi live action. Sebelumnya, ada Cinderella, Beauty and the Beast, dan Aladdin yang mendapat kritik positif dari para pemerhati film. Tak tanggung-tanggung, untuk memperkuat live action The Lion King, Walt Disney merekrut sejumlah artis papan atas di antaranya, nomine Oscar Chiwetel Ejiofor, Seth Rogen, dan Beyonce.

Live action The Lion King disutradarai Jon Favreau. Film ini diproduksi dengan bujet fantastis, 250 juta dolar AS. Sejumlah pemerhati film menyebut Jon Favreau menanggung beban berat mengingat versi klasiknya yang dirilis tahun 1994 banjir pujian.

Animasi The Lion King membukukan laba kotor 968 juta dolar AS atau sekitar Rp 13,5 triliun. Belum lagi tambahan 2 Piala Oscar untuk Tata Musik Terbaik dan Lagu Tema Film Terbaik, “Can You Feel The Love To Night.” Berikut beberapa fakta menarik The Lion King yang kami himpun dari berbagai sumber.

Tudingan Nazi

Lagu “Be Prepared” yang merupakan lagu tema karakter Scar sempat akan dihapus dari versi aksi langsung 2019 karena sempat dituduh bertemakan NAZI. Apalagi, Chiwetel Ejiofor dianggap kurang cocok untuk mengisi suara karakter ini. Karena diprotes penggemar dan kritikus, lagu ini kembali dihadirkan.

Baca Juga : Film Terbaik Sepanjang Masa Sampai Sekarang

Susul Aladdin

Versi aksi langsung The Lion King dirilis persis setelah Aladdin, sebagaimana versi animasinya yang juga dirilis berurutan. Bedanya, perilisan versi animasi berjarak 2 tahun, sementara versi aksi langsung hanya sekitar sebulan.

Benedict Cumberbatch dan Hugh Jackman

Sebelum jatuh ke tangan Chiwetel Ejiofor, peran Scar sempat dipercayakan kepada Benedict Cumberbatch. Selain itu berembus kabar, Hugh Jackman akan dipinang untuk mengisi suara Scar. Dipercaya mengisi suara Scar, Chiwetel tak mau buang waktu. Saat diwawancara Entertainment Weekly, ia mengaku mempelajari kondisi kejiwaan Scar.

“Saya tertarik memahami kondisi psikologis Scar, yang merasa punya masa lalu misterius terkait takdir para Dewa. Saya memahami psikis orang yang merasa tidak berada di tempat yang tepat dan sebagainya,” beri tahu Chiwetel.

Reuni pemain Black Panther

John Kani dan Florence Kasumba, pengisi suara Rafiki dan salah satu hyena, Shenzi, pernah tampil di film laris Black Panther. Kani memerankan ayah T’Challa, T’Chaka. Sementara Kasumba memerankan karakter Ayo.

Meninggalnya sang editor

Aksi langsung The Lion King merupakan film terakhir bagi editor Mark Livolsi. Ia meninggal dunia pada September 2018. Rekam jejak Mark Livolsi bisa ditilik dari sejumlah film kelas Oscar di antaranya, The Blind Side, The Devil Wears Prada, dan Almost Famous.